Full Day School vs Pondok Pesantren – Oleh Dr. H. Muhammad Yusuf

sumber foto: www.kompasiana.com
Oleh: Dr. H. Muhammad Yusuf, M.Ag.
(Dosen STAI Al-Furqan Makassar)

Prolog
Sejak diwacanakannya kebijakan ‘Full Day School’ telah memantik pro dan kontra di kalangan para tokoh, khususnya tokohdan praktisi pendidikan. Para tokoh menilai kebijakan full daya school  berdasarkan perspektifnya masing-masing.Full Day School (FDS) merupakan salah satu bentuk tiruan dari model pendidikan di negara-negara yang dinilai terbaik model pendidikannya. FDS adalah bentuk pendidikan full lima hari dalam sepekan. Jadi, SD, SMP, dan SMA (dan yang sederajat) yang selama ini menggunakan enam hari dalam sepekan  dari pagi hari hingga siang hari berubah menjadi lima hari sekolah dari pagi hari hingga sore hari. Perubahan tersebut tentu berdampak pada sistem dan kebijakan pendidikan. Misalnya, materi pelajaran setelah pukul 14.00 perlu ditata ulang mengenai kontennya, kesiapan SDM, sarana ibadah (bagi pelajar muslim), ruang istirahat bagi siswa dan guru, dan sejumlah masalah lainnya. Sebab faktanya, tidak semua sekolah mempunyai fasilitasyang memadai untuk menampung seluruh murid/siswa beserta guru-gurunya. Masalah konsumsi yang mencakup sumber pembiayaan, kondisi siswa, dan sederetan dilema lainnya. Berbeda halnya dengan pondok pesantren yang memilik sejarah panjang, bahkan model dan sitem pendidikan Indonesia. Full Day School bagi pesantren, itu kebijakan yang terlambat dan baru mencari bentuk, konsepnya yang masih dipertanyakan.
Pro Kontra tentang Full Day School

Masih menjadi perdebatan tentang wacana Full Day School yang dikeluarkan oleh mendikbud, Muhadjir Effendy. Berita ini seakan masih saja diperdebatkan di kalangan masyarakat, bahkan banyak sekali komentar tentang wacana ini.  Pro kontra bermunculan di masyarakat kita, banyak pihak yang angkat bicara mengenai kebijakan yang cukup mengagetkan ini. Mulai dari para pejabat pemerintahan, pengamat, orang penting, artis, masyarakat umum, orang tua, dan siswa, mereka semua memiliki pemikiran dan komentarnya menanggapi hal ini. Masyarakat memberikan penolakan dengan adanya wacana ini, pasalnya mereka merasa ini adalah rencana yang akan “memenjarakan” akan di lingkungan sekolah, juga momok bag siswa-siswi yang kurang mampu sebab mereka harus membantu orang tuanya bekerja saat tidak sekolah. Namun, sebagian juga setuju dengan adanya wacana ini, mereka merasa kebijakan Full Day School bisa membuat anak-anak mereka aman di sekolah.

Mereka yang tidak setujumengemukakan sejumlahdampak negatif dari Full Day School, yaitu anak-anak akan merasa terkekang, guru terbebani tugas tambahan, penambahan biaya. Mereka juga mempertanyakan nasib keluarga yang kurang mampu,anak-anak yang rumahnya jauh dari sekolah,  nasib sekolah yang belum layak. Disamping itu, dikhawatirkan kejenuhan siswa yang akan membuat mereka stres, kurangnya sosialisasi atau interaksi sosial dengan lingkungan luar, padahal lingkungan sekitar merupakan bagian dari lingkungan pembelajaran.

Mereka yang setuju FDS mendeskripsikan beberapa dampak positif kebijakan ini, yaitu anak-anak sekolah lebih terkendali, para siswa lebih aman walau jauh dari keluarga, mendidik sikap mandiri pada anak, memberikan pendidikan disiplin pada anak, kehidupan sosial bersama dengan teman-teman seumuran, terhindar dari tawuran, pergaulan bebas dan narkoba, anak-anak lebih menghargai waktu dengan keluarganya, orang tua lebih tenang saat anak mereka terjamin, dan sebagainya.Pondok pesantren dijadikan sebagai model atau miniatur masyarakat modern yang tepat untuk konteks masyarakat muslim Indonesia.
Posisi Pesantren

Ditengah-tengah pro kontra Kemendikbud yang berencana menerapkan Full Day School (FDS) awal semester ini, sejatinya ada lembaga pendidikan yang jauh lebih dari sekedar FDS,yaitu Pesantren. Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki ciri khas tersendiri di Indonesia. Sebagian ahli sejarah menyebutnya dengan zawiyahkarena letak bangunannya yang terpencil dari pusat keramaian dan metode belajarnya melingkar (bandongan).

Berbicara tentang pesantren, Zamakhsari Dhofier seringkali menjadi rujukan. Dalam karyanya, Tradisi Pesantren; Studi Pandangan Hidup Kyaibahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang mempunyai lima unsur yaitu; Kyai, masjid, santri, pondok dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Salah satu unsur terpentingnya adalah Kyai, karena kepemimpinannya yang kharismatik dan kemampuan agamanya yang mendalam. Dalam konteks pendidikan masyarakat dan perubahan sosial, sosok Kyai selalu menjadi sumber inspirasi dan penyaring segala unsur-unsur baru (discovery and inovation) pembawa perubahan yang akan memasuki masyarakat (culture broker).

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang memberikan  pendidikan dan pengajaran agama Islam dengan sistem bandongan, sorogan,danwetonan. Demikian pandangan Marwan Sarijo. Para santri diberikan pondokan yang dalam istilah pendidikan modern memenuhi kriteria pendidikan non formal dan menyelenggarakan pendidikan formal dalam bentuk madrasah, bahkan sekolah umum dalam berbagai tingkatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dalam pemahaman klasik, pendidikan pesantren bertujuan mendidik supaya santri menguasai ilmu agama Islam secara mendalam agar selamat di kehidupan dunia dan akhirat. Di era modern sekarang ini, pesantren sudah dikelola lebih profesional, manajemen modern dan pandangan hidup futuristik. Bahkan, pesantren modern ada yang dikelola dengan manajemen berbasis sistem. Selain menyediakan guru/ustad yang lulus dari pendidikan pesantren, mereka juga menyediakan para guru yang lulus dari perguruan tinggi. Tidak hanya sekedar menyandang gelar sarjana, tetapi juga menyandang gelar master pendidikan dan doktor. Kini pesantren sudah menjadi salah satu lembaga pendidikan masa depan di Indonesia. Pesantren terus berbenah seiring dengan perkembangan zaman, teknologi dan tuntutan masyarakat. Kurikulumpesantren juga dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman tanpa harus melunturkan unsur-unsur nilai tradisionalnya.

Pesantren zaman sekarang tidak hanya mempelajari ilmu agama semata (dengan rujukan kitab kuning/klasik), tetapi sudah mengintegrasikan materi agama dengan pelajaran umum yang berbasis sains dan teknologi. Lahirlah pondok pesantren modern di berbagai wilayah Indonesia. Pesantren sudah mampu menghapus stigmanegatif yang melekat dalam dirinya. Bahkan,  pesantren sudah menjadi salah satu tempat pilihan utama orang tua dalam mendidik anak-anaknya, sebab mereka berharap anak-anaknya akan pandai secara holistik (pandai ilmu agama, sians, dan teknologi) sehingga nantinya akan menjadi manusia yang sempurna dan utuh (insankamil), dan ini sejalan dengan tujuan pembangunan nasional untuk membangun manusia Indonesai seutuhnya.vBanyak ilmuwan besar dan tokoh bangsa Indonesia yang lahir dari pendidikan pesantren, mereka adalah anak-anak yang baik dan patuh pada orang tua.

Meningkatnya kualitas pelayanan belajar dalam lembaga pendidikan pesantren semakin menambah kepercayaan masyarakat. Bagaimanapun juga, pesantren sekarang sudah dipercaya oleh masyarakat menjadi lembaga yang mampu berperan menjalankan pendidikan moral, akademik, skill, dan psikoterapi bagi para remaja yang terjerumus menggunakan obat-obat terlarang. Karena remaja yang ketergantungan pada obat-obat terlarang tidak cukup hanya berobat secara medis, tetapi juga harus berobat secara mental.Disinilah peran Kyai sebagai “dokter mental” sangat dibutuhkan oleh mereka. Pesantren dan Kyaiberada pada garda terdepan dalam pembangunan karakter, moral, ahlak, dan mental generasi bangsa Indonesia.Mudah-mudahan tidak berlebihan,Kyai laksana dokter spesialis yang mampu mendeteksi penyakit rohani warga pesantren dan mengetahui obatnya yang tepat.

Antropolog, Clifford Gertz membagi peran Kyai dalam mendidik ummat menjadi dua hal; Pertama, Kyai sebagai tokoh sentral dalam perubahan sosial (agent of change) di masyarakat, sehingga Kyai harus mengarahkan ummatnya kepada perubahan zaman yang positif dan membangun, serta memperbaiki ummat apabila perubahan sosial yang terjadi mengarah kepada hal yang negatif dan merusak. Kedua, Kyai sebagai pemimpin ummat berfungsi sebagai penyaring terhadap pengaruh dan perubahan kebudayaan secara global (culture broker). Apabila pengaruh dan perubahan kebudayaan asingmengarah kepada kemudharatan, Kyai menyeru ummatnya agar tidak mengikutinya.

Kedua peran penting Kyai tersebut kemudian secara kontinyu didukung dan dilaksanakan oleh para santri baik di dalam maupun di luar pesantren bersama masyarakat. Dalam konteks pendidikan pesantren modern sekarang ini, peran tersebut oleh masyarakat disebut sebagai Santri Partisipatoris. Dalam konteks inilah pesantren sejatinya dipimpin oleh seorang kyai yang memiliki lingkaran pengaruh yang kuat dari aspek intelektual, sosial, manajerial, dan spritual. Ini sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi pondok pesantren yang sebagiannya harus memenuhi keberadaan unsur kyai di dalamnya, sebab jika tidak, maka pondok pesantren tersebuthanyalah sebuah “full time school” atau ‘sekolah dengan sistem asrama’.
Pesantren Full Daya School yang Paling Riil
Secara historis, model pendidikan di Indonesia jauh sebelumnya, sudah melampaui wacana kebijakan FDS. Bahkan, FDS ini bila dibandingkan dengan model pendidikan tertua di Indonesia dengan sistem pondok pesantren, FDS yang wacanakan oleh Kemendikbud tampaknya hanyalah sistem pendidikan yang setengah-setengah, karena memang hanya setengah hari yakni hanya di waktu siang. Sebab, satu hari itu terdiri atas malam dan siang.Dengan demikian, Full Day School (FDS) yang sesungguhnya pondok pesantren, bahkan  Full Time School (FTS). Kalau FDS ini dianggap sebagai penjabaran dari pendidikan karakter, maka FTS sudah lama memulai dan menerapkan jauh melampauikebijakan FDS yang baru mencari bentuk saat ini. Para kiyai pencetus bangsa ini merupakan alumni pondok pesantren dengan sistem FTS dan kurikulum berbasis kiyai (KBK).Ponpes mempunyai sistem kurikulum yang unik dan komplit. Sistem pondok pesantren tidak hanya menerapkan satu kurikulum, bahkan hingga tiga kurikulum (kurikulum kemendiknas, kemenag, dan kepesantrenan).  Kurikulum kemendiknas untuk matapelajaran umum formal, kurikulum kemenag untuk cabang-cabang matapelajaran agama formal, dan kurikulum kepesantrenan diatur oleh pesantren di bawah arahan kiyai. Ketiga kurikulum inilah dipadu menjadi kurikulum pendidikan pondok pesantren secara utuh.
Kalau FDS ini benar-benar diterapkan, maka pondok pesantren dengan sistem FTS adalah pilihan yang tepat.Dalam keadaan begitu, pondok-pondok pesantren harus dipersiapkan dan lebih berbenah untuk menampung calon santri yang diprediksi bakal lebih membeludak. Daya tampung pondok pesantren harus ditambah beberapa kali lipat atau jumlah pondok pesantren dan SDM nya harus dioptimalkan dan dipersiapkan.Sementara, sekolah-sekolah umum baik negeri maupun swasta diprediksi akan ada yang kehilangan peminat sehingga terancam ditutup.
Epilog

Umat Islam tidak perlu panik dengan sistem FDS, justru umat Islam harus paling siap mengembangkan pondok pesantren. Justru, FDS merupakankebijakan pendidikan yang terbilang sangat terlambat dibanding dengan sistem pendidikan pondok pesantren. Semoga FDS ini bukan sebuah manuver atau tandingan untuk menghalau laju perkembangan pondok pesantren seperti yang dikhawatirkan oleh kalangan tertentu. Pesantren akan tetap diminat oleh masyarakat muslim untuk memilihkan tempat menimba ilmu dan membentuk karakter yang lebih berkualitas, dan pada saatnya nanti negara harus berterimaksaih atas kontribusi besar pondok pesantren bagi pengembangan iptek dan imtak untuk generasi Indonesia.Pondok pesantren yang sudah mengakar sebagai bagian dari sejarah panjang pendidikan di Indonesia, tentu akan lebih sulit digeser, untuk tidak berkata ‘mustahil’. Wallahu a’lam.
|STAI al-Furqan Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *