Media Sosial Itu Senjata – Oleh Dr. H. Muhammad Yusuf

sumber foto: http://www.cmsmind.com
Oleh: Dr. H. Muhammad Yusuf, M.Ag.
(Dosen STAI al-Furqan Makassar) 


MEDSOS DALAM TINJAUAN ISLAM
Dalam studi Ushul Fiqh, para ushiliyyun (ulama ahli ushul fiqh) senantiasa mempertimbangkan dua aspek secara simultan dalam menarik keseimpulan (istimbath) hukum-hukum Islam, yaitu sisi maslahat dan sisi mafsadat. Kaidah hukum Islam memberikan panduan dalam proses istimbath tersebut dengan “memprioritaskan pencegahan mafsadat dibandingkan mengambil sisi maslahat”. Artinya, mencegah dampak buruk itu didahulukan daripada mengambil sisi maslahat”.

Media sosial mempunyai dampak buruk dan manfaat bai manusia. Sisi maslahat media sosial terbilang banyak, bahkan banyak sekali. Demikian pula sisi mafsadat (dampak buruk)nya. Media sosial laksana senjata, sebelum seseorang diberi izin memegang dan menggunakan senjata, ia terlebih dahulu harus dilatih mentalnya, cara penggunaannya, dalam hal apa senjata tersebut boleh dan tidak boleh digunakan. Jika penggunaan senjata dilakukan oleh tentara atau polisi yang terlatih dan bertanggungjawab, maka senjata dapat menghadirkan rasa aman bagi masyarakat sekitarnya. Tentara dan polisi tersebut menjadi pengayom masyarakat, keberadaannya menghadirkan rasa aman. Akan tetapi, bila senjata itu dipegang oleh penjahat (perampok, pencuri) maka senjata adalah alat yang sangat berbahaya, sehingga keberadaan penjahat bersenjata adalah momok dan ancaman berbahaya bagi masyarakat. Demikian pula ketika senjata dipegang oleh anak-anak kecil atau “anak-anak durhaka”, atau seseorang yang memiliki musuh. Senjata tersebut sangat berbahaya keberadaannya.

ETIKA MENGGUNAKAN MEDSOS

M. Quraih Shihab meluncurkan satu buku, Yang Hilang Dari Kita, Akhlak. Dalam pengantarnya,  beliau menyampaikan bahwa latar belakang penulisan bukunya bermula ketika heboh kasus yang secara bercanda diplesetkan dengan istilah “papa minta saham”. Demikian dikemukakan Muhammad NajibDosen STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta, Peneliti di Monash Institute Semarang. Meskipun berangkat dari kasus tersebut, namun kasus itu sesungguhnya hanya satu dari sekian banyaknya problematika akhlak pengguna medsos di Indonesia. Lebih lanjut,beliau menegaskan bahwa moral yang diajarkan dan dipraktikkan oleh leluhur bangsa dan oleh agama, tidak lagi terlihat dalam kehidupan keseharian kita. Ia telah hilang,  padahal ia adalah milik bangsa Indonesia yang paling berharga sekaligus sangat dihargai orang lain. Jika sebuah bangsa telah kehilangan akhlaknya yang luhur maka bangsa itu telah jatuh terluluh lantahkan dan tidak lagi diperhitungkan.
Kritik yang dialamatkan pada seluruh bangsa Indonesia itu kini benar-benar terasa menusuk, dan seharusnya menjadikan penyadaran bahwa etika, akhlak, dan sejenisnya telah lama kita abaikan. Ruang-ruang privat, bahkan publik sekalipun sungguh sudah dipenuhi oleh hasrat buas, ujaran kebencian, mengumbar aurat, dan mematikan karakter orang lain. Minus etika; itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan realitas kekinian kita. Media sosial yang seharusnya dijadikan wahana untuk mempererat tali silaturahim, berbagi pengalaman dan berita yang mencerahkan serta menyejukkan, justru digunakan secara kebablasan, menyebar berita bohong (hoax) untuk melancarkan serangan kepada pihak lain.

Dari perspektif agama, fitnahjelas dilarang keras, namun di era keterbukaan informasi ini justru semakin marak, dan medsos lagi-lagi dijadikan sebagai media untuk menyebarkannya. Tidak hanya fitnah, medsos juga menjadi ajang ghibah, namimah(adu-domba; tetapi yang diadu adalah manusia) dan sejenisnya. Sekali lagi, ini persoalan nasional yang berpotensi menimbulkan konflik politik, keagamaan, hingga perpecahan.

Bully melalui medsos, tuduhan anti ini dan itu, serta komentar “nyinyir” adalah fenomena yang menghiasi medsos kita.Lantas, bagaimana Islam menyikapi fenomena bahwa etika bermedia sosial sudah menjauh dari nilai-nilai dan ajaran Islam? Dalam kondisi seperti ini, dibutuhkan panduan secara tegas dari kalangan agamawan. Bertolak dan dalam bingkai itulah, Muhammadiyah menginisiasi fikih informasi. Suatu hasil dari proses istimbath menggunakan sumber hukum Islam untuk menyikapi dan merumuskan bagaimana penggunaan teknologi dan informasi secara santun dan beradab (Suara Muhammadiyah, ed. Th. ke-102, Januari 2017). Di Perguruan Tinggi Islam, mestinya materi masail fiqhiyahsudah dimasukkan.

Seperti fikih informasi yang diinisiasi Muhammadiyah, itu akan diluncurkan dalam bentuk buku. Secara tegas, sesungguhnya ajaran Islam terkait etika bermedia sudah ada. Setidaknya terdapat beberapa etika yang dimaksud.

Pertama, tabayyun(cek dan ricek).  Benar bahwa Islam tidak alergi terhadap perkembangan teknologi. Dalam Q.S. al-Hujarat : 6 disebutkan panduan bagaimana etika serta tata cara menyikapi sebuah berita yang kita terima. Quraish Shihab menerangkan bahwa ada dua hal yang patut dijadikan perhatian terkait ayat tersebut.  Pertama, pembawa berita; dan kedua, isi berita. Bahwa pembawa berita yang perlu di-tabayyundalam pemberitaannya adalah orang fasiq. Yaitu, orang yang aktivitasnya diwarnai oleh pelanggaran agama.Sedangkan menyangkut isi berita, penyelidikan kebenaran sebuah berita menjadi perhatian khusus dalam ayat tersebut. Penyeleksian informasi dan budaya literasi adalah komponen yang tidak bisa diabaikan. Jadi, tradisi mudah menge-share berita tanpa melakukan penyelidikan validitas secara mendalam tidaklah dibenarkan dalam Islam (Shihab, 2016:208-209).

Islam juga mengajarkan untuk membuat opini yang jujur, didasarkan atas bukti dan fakta, lalu diungkapkan dengan tulus. Dalam bahasa Alquran “Seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu menjulang ke langit, pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhan-Nya.” (Q.S. Ibrahim: 24-25).

Kedua, haram menebar fitnah, kebencian, dan lainnya. MUI sebagai lembaga keagamaan tentu tidak bisa berpangku tangan melihat laku masyarakat dalam menggunakan medsos sebagaimana diungkapkan di atas. Bertolak dari fenomena penyalahgunaan medsos itulah, MUI merasa tergugah sehingga mengeluarkan fatwa, yakni Fatwa MUI No 24 Tahun 2017 mengenai Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Dalam fatwa itu, ada lima poin larangan menggunakan medsos: (1) melakukan ghibah, fitnah, namimah (adu-domba), dan menyebarkan permusuhan. (2) melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan berdasarkan suku, ras, atau antara golongan. (3) menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup. (4) menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala yang terlarang secara syari. (6) menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai dengan tempat atau waktunya.

Ketiga, menjamin dan mengatur kebebasan ekspresi. Sumadiria (2016:xiv) dalam bukunya Hukum dan Etika Media Massa: Panduan Pers, Penyiaran dan Media Siber mengemukakan bahwa Indonesia telah menikmati reformasi serta demokratisasi pers dan penyiaran sejak 1998. Secara yuridis, dalam kurun waktu 1998-2008 saja, Indonesia telah memiliki lima UU organik yang berkaitan langsung dengan masalah kebebasan berbicara, kemerdekaan menyatakan pendapat, kemerdekaan pers dan penyiaran serta kebebasan berkomunikasi melalui media dalam jaringan (online). Bahkan, perusahaan pers (media online) tidak perlu mengantongi izin. Silakan beritakan hal apapun dan tentang siapapun. Tren penggunaan media sosial adalah wujud dari kebebasan berekspresi pascareformasi. Tidak hanya negara yang menjamin kebebasan berekspresi, Islam pun demikian.

Q.S .Ali Imran: 104 meminta agar setiap umat membela apa yang baik benar. Namun, seperti disinggung Ziauddin Sardar dalam bukunya,Ngaji Qur’an di Zaman Edan(2011), kebebasan berpendapat seringkali disalahgunakan untuk membuat fitnah, opini palsu, dan menebar kebencian yang sering diutarakan melalui media sosial. Dalam Islam, laku culas semacam itu dilarang.Islam mengatur kebebasan berekspresi. Pengendalian moral adalah salah satu aturannya. Bahwa kaum beriman diminta untuk tidak “memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas” (Q.S. al-Nur: 4). Dan, juga diminta untuk tidak mengolok-olok yang lain, meskipun orang itu berbeda pendapat (Q.S. al-Hujarat: 11). Kebebasan berekspresi yang digunakan untuk mengumbar kebencian dan permusuhan dilarang dalam Islam. Ada pengendalian hukum dan moral terhadap kebebasan tersebut. Dengan demikian jelas sudah bahwa etika bermedia dalam Islam merumuskan pentingnya tabayyun sebelum membenarkan dan menyebarkan informasi. Menyebarkan kebencian dan membuat berita palsu juga dilarang keras oleh Islam.

URGENSI PENDIDIKAN DALAM MENYIKAPI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI

Bukan perkembangan teknologi medsos yang terlalu cepat atau terlalu canggih, melainkan mental masyarakat penggunanya yang terlambat dipersiapkan terlebih dahulu menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan medsos tersebut. Di sinilah pentingnya arah dan tujuan pendidikan harus diperjelas. Pendidikan seharusnya bergerak simultan di rumah, di masyarakat, dan di lembaga pendidikan formal untuk mempersiapkan generasi menghadapi tantangan di setiap zaman. Empat belas abad silam, Nabi mengingatkan “Didiklah generasimu, dan ketahuilah sesungguhnya mereka diciptakan di suatu zaman yang berbeda dengan zaman kalian …”. Kadang terlalu lama kita memikirkan kurikulum berikut proyek anggaran perubahan kurikulum pendidikan. Kurikulum gonta-ganti kurikulum seiring pergantian menteri pendidikan. Para guru disibukkan dengan administrasi, sehingga lupa mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya tentang pentingnya pembentukan mental dan karakter yang baik dan tangguh menghadapi tantangan media sosial, kini dan kedepan.  Saking sibuknya para guru mengerjakan administrasi pembelajaran, akibatnya mereka lupa mendoakan murid-muridnya sebelum tidur di malam hari atau tidak sempat lagi munajat kepada Allah melalui tahajjud mendoakan kebaikan anak-anaknya. Padahal, pendidik pertama dan pemberi ilmu itu sesungguhnya adalah Allah, sehingga kita diperintahkan untuk memohon tambahan ilmu dan pemahaman kepada-Nya. Singkatnya, mempersiapkan peserta didik menghadapi peluang dan tantangan media sosial adalah salah satu yang harus dilakukan oleh para guru. Media sosial hanyalah laksana senjata, penggunaannya berikut dampak baik atau buruknya, itu sangat ditentukan oleh penggunanya (the man behind the gun).

EPILOG

Perkembangan teknologi komunikasi tidak mungkin dapat dihalau apalagi globalisasi dan demokrasi serta hak azasi manusia (HAM) sudah diterima oleh masyarakat saat ini. Pennggunaan media sosial merupakan sebuah kebutuhan mendasar bagi manusia saat ini. Alat-alat teknologi sebagai media sosial sudah berkontribusi besar bagi perkembangan dunia khususnya dunia informasi dan komunikasi saat ini. Kondisi ekonomi pun mengalami dinamika yang cukup signifikan dengan segala dampak yang menyertainya, baik yang positif maupun yang negatif.

Seperti dikemukakan sebelumnya bahwa teknologi komunikasi dan aneka jenisnya laksana senjata. Karena itu, maka dampak negatif atau dampak positif yang ditimbulkan tergantung pada manusia penggunanya. Oleh karena itu, teknologi komunikasi termasuk media sosial dapat memberikan dampak positif yang luar biasa dengan memberikan kemudahan bagi penggunanya. Akan tetapi, di sisi lain dapat pula menjadikan penggunanya sebagai pelaku kejahatan atau menjadi korban kejahatan.

        Berdasasarkan fakta yang terjadi baik yang positif maupun yang negatif yang diakibatkan oleh media komunikasi (medsos), maka perlu dilakukan langkah meningkatkan pemanfaatan media sosial secara positif dan di sisi lain mengurangi bahkan mencegah penggunaannya yang berdampak negatif bagi masyarakat. Karena the man behind the gun, yakni manusia penggunalah yang menentukan, maka masyarakat harus ditingkatkan kesadaran dan rasa tanggung jawabnya dalam menggunakan media sosial. Kesadaran masyarakat harus ditingkatkan dengan menegakkan hukum seadil-adilnya, para muballigh, kyai, tokoh agama saling membahu dalam mengawal dan mencerahkan masyarakat dalam menggunakan media-sosial secara tepat, beretika, dan bertanggungjawab. Para pendidik melaksanakan pendidikan dengan keteladanan dalam menggunakan media sosial. 


|STAI al-Furqan Makassar

1 tanggapan pada “Media Sosial Itu Senjata – Oleh Dr. H. Muhammad Yusuf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *