KKN Sebagai Wahana Mini Tour Penelitian | Oleh Muhammad Yusuf

Prolog
Pengalaman saya menulis tiga laporan akhir (Skripsi, Tesis, Disertasi) semua ditulis dan diselesaikan ketika berada di lokasi pengabdian masyarakat.[1] Bedasarkan pengalaman itu, maka melakukan pengabdian masyarakat akan menjadi kesempatan melakaukan penelitian yang nyata. KKN adalah sebuah desain perkuliah dengan model learning by doing (belajar sambil bekerja nyata) atau dapat pula disebut edutrip (perjalanan ilmiah). Kuliah Kerja Nyata merupakan proses pembelajaran bagi mahasiswa program strata satu (S1) yang dikembangkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat sebagai bentuk pengabdian kepada Masyarakat, Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang wajib diikuti oleh mahasiswa program strata satu (S1). Pelaksanaan KKN memiliki tujuan menumbuhkan empati dan kepedulian civitas akademika terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan yang dibutuhkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan suatu kegiatan intrakurikuler yang memiliki tujuan memadukan pelaksanaan konsep Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat di pedesaan melalui kerjasama dalam kelompok atau tim.[2]

Kerja tim yang dilakukan mahasiswa memiliki susunan program kerja yang harus dikerjakan pada masa kepengurusan kemudian pada awal kepengurusan merupakan sebuah bentuk tanggung jawab yang harus dipikul oleh setiap individu sebagai konsekuensi dari statusnya sebagai anggota organisasi. Dalam proses berorganisasi, salah satu tugas yang harus dikerjakan adalah kerja kelompok atau bekerja secara tim. Tim adalah sekelompok orang yang sportif, sensitif, dan senang bergaul, serta mampu mengenali aliran emosi yang terpendam dalam tim dengan sangat jelas. Tim menghasilkan sinergi positif melalui usaha yang terkoordinasi. Usaha-usaha individual mereka menghasilkan satu tingkat kinerja yang lebih tinggi daripada jumlah masukan individual.[3]  Penggunaan tim secara efektif menghasilkan potensi untuk menyelesaikan masalah dan bagi sebuah organisasi untuk membuahkan hasil yang lebih besar dan lebih unggul daripada kinerja individu jika tugas yang harus dilakukan menuntut keterampilan ganda (multi skills). Namun pada kenyataannya di dalam tim, sering sekali tidak semua anggota tim menjunjung tinggi nilai dan etika bekerjasama.

Anna menyatakan dalam artikel yang sama[4]bahwa problem solving merupakan bagian dari proses berpikir yang dibutuhkan dalam menyelesaikan segala permasalahan yang sedang dihadapi oleh seseorang. Problem solving melibatkan kompleks mental yang merupakan vasiasi dari keterampilan dan perilaku kognitif. Hal ini menunjukkan bahwa problem solving merupakan bagian dari keterampilan berpikir tingkat tinggi, seperti visualisasi, asosiasi, abstraksi, komprehensi, manipulasi, analisis, sintesis, dan generalisasi. Problem solving team memiliki makna penyelesaian masalah dalam tim, di mana mahasiswa dapat menyelesaikan segala bentuk permasalahannya secara bersama-sama yang merupakan permasalahan dalam tim KKNnya.

Berdasarkan hal tersebut, KKN harus dipandang bukan hanya sebagai sebuah kaharusan akademik, melainkan juga sebagai kesempatan untuk berkolaborasi untuk membentuk sinergi dalam mengidentifikasi masalah-masalah dan bersinergi pula dalam merumuskan solusi-solusinya. Selanjutnya dituliskan dan dipublikasi untuk memberikan pencerahan dan kontribusi bagi khalayak dalam menyelesaikan masalah-masalah serupa. Dengan demikian KKN tidak hanya berkontribusi bagi masyarakat tempat atau lokasi KKN semata, melainkan berdampak luas. Hal ini hanya bisa terjadi apabila Laporan Kolektif penyelenggaraan Program KKN dilaporkan sebagai sebuah hasil riset dipublikasikan secara online atau bentuk cetak. Komunikasi lintas PT akan sangat bermanfaat bagi terwujudnya akselerasi pengembangan Ipteks. Paradigma Program KKN tidak hanya dipandang sebagai matakuliah wajib semata, tetapi kesempatan mengekspresikan kompetensi, skill, dan penerapan teori serta kritik terhadap berebagai teori yang tidak relevan dengan realitas sosial dan diharapakan temuan-temuan di lapangan disistematisir menjadi sebuah laporan-laporan tim KKN untuk memberikan perspektif baru bagi penyelenggaraan KKN di berbagai PT khususnya PT tempat mahaisiswa belajar. Peran strategis pembimbing KKN untuk melakukan pembimbingan kepada mahasiswa peserta KKN untuk menghasilkan laporan riset KKN yang bermutu tinggi dan berkontribusi bagi pengembangan riset di PT.

Mengapa Ada KKN?

Guna memberikan pengalaman kepada mahasiswa hidup di tengah-tengah masyarakat/di luar kampus serta untuk menerapkan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang telah diperoleh di bangku kuliah di dalam kampus, Undiksha menetapkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai salah satu mata kuliah wajib. Melalui KKN mahasiswa diharapkan dapat mengasah kecerdasan sosial dan emosional. Di samping itu mahasiswa diharapkan dapat belajar mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat serta dapat memberi solusinya. Dengan KKN mahasiswa dapat beranjak dari visi dan  misi Sekolah Tinggi Agama Islam (selanjutnya disingkat STAI) Al-Furqan Makassar, yaitu untuk mengamalkan Ipteks dan bersedia mengabdikan diri demi kemasalatan umat manusia pada umumnya dan masyarakat desa pada khususnya.

Guna memberikan pengalaman kepada mahasiswa hidup di tengah-tengah masyarakat/ di luar kampus serta untuk menerapkan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang telah diperoleh di bangku kuliah di dalam kampus, STAI Al-Furqan Makassar menetapkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai salah satu mata kuliah wajib. Melalui KKN mahasiswa diharapkan dapat mengasah kecerdasan sosial dan emosional. Di samping itu mahasiswa diharapkan dapat belajar mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat serta dapat member solusinya. Dengan KKN mahasiswa dapat   Beranjak dari visi dan  misi STAI Al-Furqan Makassar, pengembangan STAI Al-Furqan  diarahkan mengamlakan Ipteks dan bersedia mengabdikan dengan tulus diri demi kemasalatan agama dan umat manusia pada umumnya dan masyarakat desa pada khususnya

KKN sebagai Unsur Pengabdian Masyarakat dan Penelitian

Tidak ditemukan regulasi secara khusus mengenai kewajiban ber KKN bagi mahasiswa, namun kewajiban melakukan pengabdian kepada masyarakat diumpai dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 20 ayat 2. Berdasarkan inilah kemudian diturunkan dalam bentuk kebijakan Perguruan Tinggi melalui kurikulum yang memasukkan KKN sebagai satu matakuliah di Perguruan Tinggi. Dengan demikian KKN juga dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan mengenai penelitian dan publikasi yang ada dalam sistem dan struktur organisasi pengelolaan perguruan tinggi.

Sebagai pengembangan dari Unsur pengabdian pada masyarakat, Program KKN juga berfungsi sebagai suatu proses pembinaan mahasiswa guna memantapkan wawasan alam memahami realitas kehidupan masyarakat dengan berbagai permasalahannya dan meningkatkan ketermpilan mahasiswa dalam memecahkan masalah yang berkembang dalam masyarakat. Disamping itu kegiatan KKN diharapkan tidak saja berkontribusi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi tetapi juga berkontribusi dalam pembentukan profesionalisme mahasiswa.

Sehubungan dengan hal itu tujuan kegiatan KKN adalah untuk meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa melalui keterlibatan langsung dengan masyarakat di dalam menemukan, merumuskan, mempelajari, mengenal potensi masyarakat, mengorganisasikan masyarakat, memecahkan, dan menanggulangi permasalahan pembangunan masyarakat secara rasional dengan menumbuhkan motivasi, untuk memanfaatkan kekuatan sendiri dan untuk meningkatkan kedewasaan, kepribadian, serta memperluas wawasan mahasiswa.

Pendidikan memiliki peranan penting dalam pembentukan generasi muda penerus bangsa. Melalui pendidikan manusia mempelajari proses pendewasaan dan pemandirian secara sistematis, agar dapat menjadi penerus bangsa yang berkarakter, memiliki kemampuan serta siap menjalani kehidupan secara bertanggung jawab. Menjalani kehidupan secara bertanggung jawab berarti berani mengambil keputusan yang bijaksana sekaligus berani menanggung segala konsekuensi yang ditimbulkannya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 20 ayat 2 menyatakan bahwa: “Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat”.[5]

Penyelenggaraan Kuliah Kerja Nyata diharapkan dapat menjangkau tiga sasaran utama. Pertama, sebagai wahana pembelajaran bagi para mahasiswa (peserta KKN) untuk mengaplikasikan berbagai teori yang diperolehnya selama dalam perkuliahan, sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing. [6]Kedua, Kuliah Kerja Nyata dapat memberikan nilai tambah dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Ketiga, Kuliah Kerja Nyata merupakan media untuk membangun kemitraan antara lembaga perguruan tinggi yang bersangkutan dengan masyarakat, termasuk di dalamnya sebagai upaya untuk membangun citra sekaligus dapat dijadikan sebagai ajang promosi perguruan tinggi yang bersangkutan.[7]

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu wujud pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Program ini menjadi tanggungjawab Perguruan Tinggi yang tercantum dalam “Tri Dharma Perguruan Tinggi” yang terdiri dari Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Melalui pendidikan dan pengajaran, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai konsep-konsep maupun teori-teori yang sesuai dengan bidang studi yang sedang ditekuni. Konsep dan teori yang diperoleh kemudian diuji maupun dikembangkan melalui penelitian sebagai sumbangsih dalam ilmu pengetahuan. Hasil atau temuan yang diperoleh dari penelitian tersebut kemudian diaplikasikan dalam bentuk pemberdayaan masyarakat yang menjadi ujung tombak dari sebuah pengabdian masyarakat.[8]

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah suatu bentuk pendidikan dengan cara memberikan pengalaman empiris kepada mahasiswa untuk hidup di tengah-tengah masyarakat di luar kampus, dan secara langsung mengajarkan kepada mahasiswa cara mengidentifikasi masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Kuliah Kerja Nyata akan menunjukan keterkaitan langsung antara dunia pendidikan dan upaya perwuju dan kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa akan menguji sekaligusmengaplikasikan hasil dari proses belajarnya selama 6 semester pada masyarakat dengan kondisi yang berbeda-beda di tiap daerah.[9] 

Secara umum program KKN di setiap Perguruan Tinggi ditujukan sebagai upaya perwujudan kesejahteraan masyarakat, namun tiap Perguruan Tinggi memiliki fokus tersendiri dalam mencapai tujuan tersebut yang disesuaikan dengan jenis, kualitas maupun kapasitas yang dimiliki oleh mahasiswa serta visi misi masing-masing Perguruan Tinggi.

Sebagai contoh saja, KKN UIN Sunan Ampel Surabaya memiliki misi yakni “Memberdayakan masyarakat ke arah transformasi sosial keagamaan yang menumbuhkan kehidupan masyarakat kritis yang berkeadilan, mandiri, dan emansipatoris”. Sedangkan tujuan secara umum  KKN UIN Sunan Ampel Surabaya yakni “Meningkatkan kualitas peran UIN Sunan Ampel Surabaya dalam memberdayakan dan mengembangkan masyarakat melalui pendampingan dalam rangka mewujudkan masyarakat transformatif menuju kehidupan masyarakat kritis yang agamis, berkeadilan, mandiri dan demokratis”.[10]

STAI Al-Furqan tentu memiliki perbedaan-perbedaan dengan UIN Sunan Ampel Surabaya, tetapi tentu terdapat hal-hal yang dapat diadaptasi. Misalnya, upaya dalam memberdayakan dan mengembangkan masyarakat melalui pendampingan dalam rangka mewujudkan masyarakat transformatif menuju kehidupan masyarakat kritis yang agamis, berkeadilan, mandiri dan demokratis. Dalam konteks ini STAI Al-Furqan dalam pengamatan saya selama kurang lebih 13 tahun, selalu menyelenggarakan KKN dan melaksanakan direct action (tindak lanngsung) melakukan pengabdian masyarakat, namun belum pernah ada laporan kegiatan yang terbaca oleh saya apalagi publikasi ilmiah dari hasil kegiatan tersebut. Padahl seorang mahasiswa jurusan Tarbiyah misalnya, melakukan pengabdian di lokasi KKN dengan mengar di sekolah terdekat. Padahal, jika KKN dipandang sebagai wahana tour riset maka kegiatan mengajar dapat dijadikan semua pengalaman awal untuk diteruskan sebagai penelitian tindakan kelas atau penelitian action research (PAR).

Demikian pula jurusan Syariah yang melakukan magang di Pengadilan Tinggi, pengalamannya selama menjalani magang tersebut dapat dijadikan sebagai data awal untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah-masalah penelitian. Selanjutnya, dirumuskan latar belakang dan variabel-variabel judul penelitiannya. Atau, selama ber-KKN, mahasiswa jurusan syariah dapat melakukan hal-hal tersebut di lokasi KKN dan mencari keserupaan-keserupaan dengan wilayah-wilayah lain yang dijadikan sebagai lokasi penelitian jika jenis penelitiannya penelitian lapangan (field research). Bahkan bisa jadi pula, pengalaman lapangan menginspirasi untuk melakukan kajian pustaka (research study).

Seperti hal jurusan Tarbiyah dan jurusan syariah, maka jurusan Dakwah (KPI) juga dapat melakukan hal yang sama. Berbagai pengalaman empirik atau temuan di lokasi KKN, dapat diidentifikasi dan dirumuskan selanjutkan ditingkatkan menjadi latar belakang penelitian serta variabel-variabelnya. Teori-teori dakwah yang dipelajari selama 6 semester dapat dijadikan sebagai pendekatan dalam melihat masalah-masalah atau gejala-gejala sosial. Hal ini bertujuan melaksanakan Surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 : Wajib Publikasi Ilmiah Bagi S1/S2/S3

Ada surat Dirjen Dikti tentang ketentuan publikasi untuk program S1/S2/S3 yang merupakan salah satu syarat kelulusan, yang berlaku terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012:[11]

1 ) Untuk program S1 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah; 2 ) Untuk program S2 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah nasional terutama yang terakreditasi Dikti; 3 ) Untuk program S3 harus ada makalah yang sudah diterima terbit di jurnal Internasional.[12]
Implementasinya, setiap PT berkewaijiban melaksanakan surat edaran tersebut tidak terkecuali STAI Al-Furqan sebagai sub sistem Pendidikan Tinggi di Indonesia.  Kontribusi STAI Al-Furqan akan menjawab keterbelakangan kualitas pendidikan tinggi di tingkat nasional dan internasional, serta para alumni memiliki karakter budaya akademik  dan ilmiah.

Epilog

          KKN sebagai sebagai sebuah matakuliah dengan bobot SKS yang tinggi dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, maka selain menjadi kesempatan mengabdi juga merupakan peluang untuk melakukan analisis dan kajian ilmiah terhadap berbagai pengalaman empirik. Ketika Peserta KKN kembali dari lokasi wajib membuat laporan Kegiatan selama berada di lokasi. Selain itu, seluruh mahasiswa sedapat mungkin minimal telah melakukan idenfikasi berbagai masalah, merumuskan latar belakang dan rumusan masalah selanjutnya dirumuskan dalam bentuk variabel-variabel dan judul penelitian. Apabila mahasiswa KKN telah berhasil merumuskan masalah, maka secara teoritis separuh penelitian skripsinya telah selesai. Peserta KKN kali ini akan lebih cepat menyelesaikan laporan akhir studinya (Skripsinya) secara jujur tanpa plagiasi melalui proses pembimbingan yang terukur. Hasil riset skripsi tersebut dapat diolah menjadi artikel ilmiah untuk dipublikasikan pada jurnal nasional atau internasional. Hal ini akan mendukung akselerasi peningkatan akreditasi lembaga dan seluruhjurusan dan prodi yang ada, sehingga reputasi STAI Al-Furqan akan makni baik. Semoga sukses bersama dengan kesuksesan lembaga kita!


[1] Sebelum saya berbicara lebih jauh tentang KKN, saya bermaksud men-share pengalaman tentang penulisan laporan akhir studi –tentu saja bukan bermaksud menonjolkan atau membanggakan diri, tidak!. Kenangan yang tidak terlupakan setelah di tahun 1997 dan tahun 2002. Tahun 1997 Skripsi yang saya tulis dalam bahasa Arab selesai konsepnya di lokasi KKN Desa Bentenge Kabupaten Maros. Saat itu, kami dan mahasiswa seangkatan saya masih ada tiga matakuliah di kelas sepulang dari kegiatan KKN, dan seminggu setelah balik ke kampus Skripsi saya sudah di tandatangani persetujuannya oleh kedua pembimbing saya, Drs. H. Azhar Arsyad, M.A. (kini Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, M.A.) dan H. Mustafa M. Nuri, LAS (alm. Dr. (Hc). H. Mustafa M. Nuri, LAS). Ketemu dengan dua orang hebat ini tentu saja saya benar-benar beruntung. Pada tahun 2002, Tesis Magister selesai konsepnya ketika berada di lokasi kegiatan Dakwah Ramadhan di Kabupaten Soppeng selama satu bulan penuh. Saat itu kami baru semseter III di PPs IAIN Alauddin. Praktis, kami dan mahasiswa seangkatan saya masih sementara menjalani tiga matakuliah di semester III. Artinya, tesis sudah terlebih dahulu disetujui oleh kedua Promotor sebelum selesai matakuliah yang lain. Kedua promotor, Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, M.A. dan Prof. Dr. H.M. Radhi al-Hafidh, M.A. (alm.). Demikian pula ketika Studi di S3 saya berhasil menjadi menyelesaikan Disertasi Doktor di kelas seangkatan saya di bawah bimbingan Prof. Dr. H. Abd. Muin Salim, Prof. Dr. H.M. Galib M, M.A., Prof. Dr. H. Saleh Putuhena/Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, M.A.

[2] Anna Febrianty Setianingtyas. Kemampuan Problem Solving dalam Tim Melalui Team Building pada pada Mahasiswa KKN di Daerah Nangsri Klaten, Sebuah artikel hasil riset 2018, hlm. 1.
[3] Anna Febrianty Setianingtyas. Kemampuan Problem Solving…, hlm. 1.

[4] Anna Febrianty Setianingtyas. Kemampuan Problem Solving…, hlm. 2.

[5] Amelia Perdana, Holilulloh, Yunisca Nurmalisa, Jurnal Pendidikan, Pengaruh Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Terhadap Keterampilan Sosial Mahasiswa Program Studi PPKN Universitas Lampung, 2013, hlm. 4.  

[6] Selisih antara teori-teori yang dipelajari di ruang akademik (perkuliahan) dengan realitas yang terjadi di lapangan (lokasi KKN) merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk melakukan identifikasi terhadap masalah-masalah untuk selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian.

[7] Amelia Perdana, Holilulloh, Yunisca Nurmalisa, Jurnal Pendidikan, hlm. 5. 

[8] L2PM UINSA, Panduan Penyelenggaraan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Transformatif Dengan Metodologi Participatory Action Research (PAR). (Surabaya  : CV Raziev Jaya, 2016), hlm. 6.

[9] Kondisi setiap wilayah tempat KKN itulah akan menjadi tantangan sekaligus peluang menyesuaikan atau bahkan mensitensiskan dengan teori-teori yang telah dipelajari di ruang akademik. Inilah kesempatan mengidentifikasi dan mengemukakan berbagai masalah dan merumuskannya dalam bentuk masalah atau pertanyaan penelitian untuk selanjutnya dirumuskan dalam bentuk judul-judul penelitian terutama untuk laporan laporan akhir studi (Skripsi).

[10]  L2PM UINSA, Panduan Penyelenggaraan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Transformatif Dengan Metodologi Participatory Action Research (PAR). (Surabaya  : CV Raziev Jaya, 2016), hlm. 17. 
[11] Lengkapnya, silakan baca Surat Edaran No. 152/E/T/2012 tanggal 27 Januari 2012 yang ditujukan kepada Rektor/Ketua/Direktur PTN/PTS di seluruh Indonesia. 

[12] Hal ini telah dimuat dalam Web STAI Al-Furqan Makassar, silakan lihat Muhammad Yusuf, Tips to Publish Your Paper. Makalah ini pernah disampaikan pada seminar Internasional bekerjasama dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) bersama Prof. Darrisah Idrus, M.A., Ph.D.

________
STAI Al-Furqan Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *