PERKEMBANGAN “AL-FURQAN” DARI MASA KE MASA (PERIODE 1987-2020)

Muhammad Tang
Alumni STAI Al-Furqan Makassar (1997-2002)

PERKEMBANGAN “AL-FURQAN” DARI MASA KE MASA (PERIODE 1987-2020)

Oleh : Muhammad Tang

Kata “Al-Furqan” yang melekat dalam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Furqan, merupakan salah satu nama dari pedoman utama umat Islam, yaitu Al-Qur’an al-Karim. Al-Furqan secara bahasa berarti “pembeda”, pembeda antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah), pembeda antara jalan kebahagian dan jalan kesensaraan, petunjuk kepada jalan yang benar (al-Islam). Jadi jika ingin mendapatkan kebenaran, kebahagian dunia-akhirat; maka pilihlah “Al-Furqan” sebagai pilihan dan pedoman utamanya. Makna inilah yang menjadi spirit bagi pendirinya untuk memberikan nama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) “Al-Furqan” Makassar.

Secara historis pada tahun 1987, STAI Al-Furqan lahir dari pergumulan secara kolaboratif pemikiran para tokoh besar yang berbagai unsur di Sulawesi Selatan pada saat itu di antaranya, yaitu; Prof. Dr. H. Ahmad Amiruddin (Gubernur Sulawesi Selatan), Prof. Hj. Rasdiana (Rektor IAIN Alauddin), dan H. Alim Bachri (Ketua DPD Golkar Sulawesi Selatan), serta Ka. Kanwil Depag RI., Sulawesi-Selatan Drs. H. Abd Rahman K. Ide pertamanya adalah mendirikan suatu lembaga di Sulawesi Selatan yang khusus mengelolah pendidikan Ilmu al-Qur’an (Qiraah, tahfidz, dan tafsir).

Selanjutnya, Ibu Prof. Hj. Rasdiana selaku Rektor IAIN Alauddin Makassar pada saat memberikan masukan agar para peserta tersebut mendapat ijazah, maka diformalkanlah lembaga tersebut menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ). Pada tahun 1988 dibukalah satu jurusan, yakni jurusan Syariah program studi Akhwalul Syakhsiyah, dengan adanya satu jurusan ini, maka berubahlah nama dari Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS). Kemudian pada tahun 1996, berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Furqan Makassar berdasar SK Nomor 223 tahun 1996, tepatnya pada tanggal 24 Desember 1996, oleh an. Menteri Agama Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam (A. Malik Fajar). Status STAI Al-Furqan Makassar sudah berjalan selama 24 tahun sampai sekarang ini, dan telah membuka beberapa program studi:

  1. Prodi Akhwal al-Syakhsiyah (AS).
  2. Prodi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI).
  3. Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI).
  4. Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).

Pada tahun 2018 sampai sekarang sedang berjalan proses pengusulan prodi baru (Ekonomi Syariah, PAUD, dan S.2 PAI dan S2 Hukum Islam) dan pengusulan alih status dari STAI menjadi IAI Al-Furqan Makassar.

Selama 33 tahun berdirinya (1987-2020) STAI Al-Furqan Makassar telah dinahkodai oleh delapan ketua, yaitu;

  1. Drs H. Hamzah Yaqub ( 1987- 1992),
  2. Dr. H. Hamka Haq, MA. ( 1992-1997),
  3. Dr. H. Qasim Mathar, MA. (1997-2002),
  4. Dr. H. Hrifuddin Cawidu, MA., (2002-2005),
  5. Drs. H. Muh Sahrul, M. Ag. (2005-2010)
  6. Dr. H. Zainuddin Hamka, M. Ag. ( 2010-2013)
  7. Dr. Muh Hasbi, M. Ag. ( 2013-2015)
  8. St. Habibah, S. Ag., M. Hum., MA. (2015-2019) dan (Periode ke-2; 2019-sampai sekarang)

Ketujuh pimpinan tersebut merupakan putra terbaik Sulawesi Selatan yang pernah memimpin STAI Al-Furqan Makassar pada bidang keahlian dan pada masanya. H. Hamzah Yaqub yang penuh ketawaddhuan dan kesabaran memimpin awal berdirinya kampus STAI Al-Furqan Makassar. Orangnya sabar, retorikanya tersusun dengan baik dan penuh dengan ketegasan. H. Hamka Haq seorang dosen, cendikiawan, sekaligus sebagai politisi yang disegani di lingkungan IAIN Alauddin dan Sulawesi Selatan pada umunya. Beliau sekarang sudah menjadi guru besar di bidang Aqidah dan Filsafat (Prof.) yang diraihnya beberapa tahun yang lalu, dan sedang menjadi anggota DPR RI (Priode 2014-2019) dari praksi PDI Perjuangan serta, menjadi pelopor berdirinya Baitul Muslimin di bawah naungan PDI Perjuangan.

H. Qasim Mathar, seorang ilmuan yang tampil dengan sederhana dan bersahaja, sering mengeluarkan pemikiran yang kontraversial di kalangan umat Islam, khususnya di Sulawesi Selatan. Beliau sekarang sudah menyandang Guru Besar (Prof.) di bidang pemikiran Islam, dan sampai sekarang (2020) masih aktif mengajar di UIN Alauddin Makassar. H. Harifuddin Cawidu, seorang tokoh cendikiawan yang diakui keilmuannya di lingkungan IAIN Alauddin ketika itu, tapi sayang Tuhan menakdirkannya lebih cepat kembali kepada-Nya meninggalkan dunia yang pana ini ketika beliau masih menjabat Ketua STAI Al-Furqan Makassar, setelah operasi kanker otak.

Kepemimpinan selanjutnya adalah H. Muh Sahrul, bisa dikatakan sebagai muballigh yang multi talenta dengan menguasai beberapa bidang di antaranya; tilawah, menyanyi dan qasidah, tentunya juga memiliki retorika yang bagus jika ceramah, serta memiliki kelincahan dalam mengurus dan dikenal sebagai tukang lobi ulung. Selama kepemimpinan beliau selama lima tahun terjadi banyak permasalahan dalam pengelolaan kampus, mulai tidak reakreditasinya institusi, sehingga banyak mahasiswa yang pindah ke kampus yang lain, serta permasalahan lainnya. Namun, sebelum pensiun setelah tidak menjabat lagi sebagai Ketua beliau dipanggil yang Maha Kuasa untuk menghadap-Nya setelah lama menderita penyakit diabetes.

Setelah H. Muh Sahrul menjabat sebagai ketua, kepemimpinan STAI Al-Furqan selanjutnya adalah H. Zainuddin Hamka adalah dosen DPK yang mendapat beasiswa S3 dari Kemenag RI atas rekomendasi kampus STAI Al-Furqan Makassar. Kepemimpinan beliau tidak berjalan lama, karena kurangnya mahasiswa pada saat itu beliau mengundurkan diri dan pindah hombes ke Universitas Indonesia Timur (UIT). Mengingat kekosongan pimpinan (ketua), maka rapatlah beberapa dosen senior untuk menentukan ketua selanjutnya. Dengan berbagai lika-likunya dan saling melimpahkan antara satu dengan yang lainnya, akhirnya jatuh kepada Dr. Muh Hasbi, M. Ag. Adalah salah seorang dosen STAIN Bone. Pada kepemimpinan beliaulah STAI Al-Furqan mulai dibenahi pengelolaanya, mulai pengeloaan staf, adminitrasi, keuangan, dan sarana prasarana, termasuk peninggalan beliau adalah pagar tembok di depan kampus. Pada masa ini juga mahasiswa mulai bertambah, gairah perkuliahan mulai bergeliat dan aktivitas kampus lainnya. Namun, beliau tidak cukup satu periode untuk memipin karena terganjal oleh aturan bahwa dosen PNS tidak boleh menjabat di tempat yang lain, kecuali di hombesnya sendiri.

Terjadinya kekosongan kepemimpinan, setelah Dr. Muh Hasbi, M. Ag., mengundurkan diri, maka kepemimpinan selanjutnya adalah jatuh kepada Ibu St. Habibah, S. Ag., M. Hum. MA., adalah salah seorang putri Bima yang dipersunting oleh Dr Abdul Rahim, M. Si.. Sejak kepemimpinan belian (2015) sampai sekarang yang telah memasuki periode ke-2 pengelolaan kampus telah banyak mengalami perkembangan mulai jumlah mahasiswa semakin tahun semakin bertambah, reakreditasi kampus, dari empat prodi yang ada (PAI, Ahwalul al-Syakhsiyah, BPI, dan PGMI) telah tiga prodi yang memiliki nilai akreditasi baik (B), yakni prodi PAI, Ahwalul Syakhsiyah, dan PGMI, sedang prodi BPI sedang dalam proses reakreditasi. Di samping perkembangan tersebut, juga terjadi perkembangan di bidang sarana dan prasarana, yakni gedung perkuliahan, perkantoran dan perbaikan gedung aspuri. Cita-cita beliau, sedang proses pembelian dan pembangunan kampus II STAI Al-Furqan Makassar, semoga terlaksana… In Syaa Allah. Aamiin.

Demikianlah lika-liku perkembangan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Furqan Makassar, apa yang ada sekarang masih jauh dari impian idealnya suatu institusi pendidikan tinggi, maka untuk itu diperlukan suatu perjungan oleh seluruh stakehoulder yang memiliki i’tikad baik, hati yang ikhlas, usaha yang maksimal, serta tawakkal dan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar cita-cita dapat diraih, sebagaimana yang termaktub dalam Mars STAI Al-Furqan “Jayalah Al-Furqan, Jayalah Al-Furqan, Jayalah Al-Furqan”. Aamin yaa Rabbal Aa-lamin.

Malang, 10 Oktober 2020

Penulis : Muhammad Tang
Editor : Muhammad Yusuf Putra

l STAI Al-Furqan Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *