Rawat Budaya Malu dan Jujur, Cegah Korupsi

Dr. H. Muhammad Yusuf, M.Pd.I
Dosen STAI Al-Furqan Makassar

Hari ini, tepat 31 Desember 2020, penghujung tahun. Dan, besok kita mengawali 2021. Banyak yang menyikapi momen pergantian tahun dengan cara berbeda-beda. Tak ada yang salah dengan itu selama nilai-nilai luhur moral itu tidak dilanggar, baik yang berlandaskan nilai luhur agama maupun nilai luhur budaya.

Namun, pertanyaan yang patut diajukan adalah apa capaian prestasi kita yang patut dirayakan? pertanyaan ini, menurut hemat saya, layak diajukan, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelayan publik.

Artikel tentang pergantian tahun masih diungguli oleh headline berita tentang korupsi yang masih bertahta di republik ini. kasus pelanggaran Hak azasi manusia pun masih mencekam.

Khusus soal kasus tindak pidana korupsi (Tipikor), masih menyibukkan pejabat KPK. Setiap saat masih menjadi tontonan publik kasus OTT bagi koruptor. Lembaga anti rasywah itu masih memperlihatkan andilnya. Mereka masih ada untuk mengawal agenda utama reformasi dalam memberantas korupsi. Tapi seriuskah pemerintah memberantas “tikus-tikus” itu? Tentu saja jawaban cepatnya, “ya”. Buktinya KPK belum dibubarkan. Hanya perlu diperkuat.

Presiden Jokowi menyatakan, upaya pemberantasan korupsi membutuhkan kegigihan, konsistensi, dan orkestrasi kebersamaan yang luar biasa untuk mencegahnya. Presiden juga mengatakan budaya malu korupsi harus ditumbuhkan. Tentu saja perguruan tinggi tidak boleh alpa dalam mengambil peran aktif dalam pencegahan korupsi dengan menyusun Bu kurikulum, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan pendidikan antikorupsi bagi mahasiswa. Menanamkan nilai luhur agama dan budaya jujur (lempu’) dan malu (siriq) kepada para mahasiswa. Dari ruang akademik lah kita mencegahnya.

Diutuhkan inovasi-inovasi dan kerja sistematis untuk menutup ruang bagi terjadinya korupsi. Dan, perlu tindakan yang adil dan kosisten untuk menindak para pelaku pidana korupsi. Ini juga bagian dari isi pidato Presiden Jokowi saat berpidato secara virtual pada peringatan Hari Antikorupsi Sedunia Tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (16/12/2020). Saat itu tidak berselang lama dengan kasus penangkapan koruptor, yang tidak lain adalah dari kalangan Menteri. Ini benar-benar absurd. Tapi begitulah faktanya.

Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia Tahun 2020 masih diwarnai kesedihan bagi rakyat Indonesia karena uang mereka masih dirampok oleh maling-maling kelas kakap.

Mudah-mudahan bukan PHP (pemberi harapan palsu), karena kita masih menaruh asa kepada Presiden. Presiden Jokowi secara tegas menyatakan, dengan langkah-langkah yang sistematis dan sistemik dari hulu ke hilir, KPK bersama aparat penegak hukum lainnya akan semakin efektif memberantas korupsi, memberantas kemisknan, dan mengurangi pengangguran dan menjadikan Indonesia negara maju yang kita cita-citakan. Ya…, Perkuat dong posisi KPK …

Disebutkan orientasi dan mindset dalam pengawasan hukum harus diarahkan untuk perbaikan tata kelola dan pencegahan korupsi, sebab profesionalitas aparat penegak hukum menempati posisi sangat sentral dalam penindakan dan pencegahan.

Kinerja penegakan hukum bukan diukur dari seberapa banyak kasus yang ditemukan, tetapi pada bagaimana mencegah secara berkelanjutan agar tindak pidana korupsi itu tidak sampai terjadi lagi. Dalam konteks pencegahan itulah perguruan tinggi mendapatkan ruang luas untuk mengambil peran penting dan strategis.

Lagi-lagi menurut Presiden. Beliau mengatakan, mengembangkan budaya antikorupsi dan menumbuhkan rasa malu menikmati hasil korupsi merupakan hulu yang penting dalam pencegahan tindak pidana korupsi. Kita tunggu buktinya!

Selain itu, pendidikan antikorupsi harus diperluas untuk melahirkan generasi masa depan yang antikorupsi. Dalam konteks inilah perguruan tinggi khususnya, menempati posisi strategis untuk menghasilkan generasi yang cerdas dan berintegritas. Tutup semua transaksi ketidakadilan dan ketidakjujuran dalam proses pelayanan pendidikan.

Budaya malu harus masuk sebagai nilai dalam semua matakuliah. Malu mengklaim hak yang bukan haknya, malu membuat pernyataan palsu, plagiat. Mahasiswa menulis tugas-tugas makalah, bukan soal selesai dan memperoleh nilai saja, tapi yang paling utama adalah ikhtiar yang jujur dalam proses pembuatannya. Misalnya menulis footnote, innote, endnote, mengajarkan ketelitian dan kejujuran ilmiah. Membedakan kutipan langsung dan tidak langsung itu mengajarkan kejujuran ilmiah. Dari tradisi akademik seperti inilah diawali untuk menanamkan nilai-nilai luhur kejujuran agar kelak menjadi generasi yang yang jujur di manapun mereka berkiprah dan berkhidmat.

Program paling urgen bahkan darurat adalah program pendidikan antikorupsi bagi generasi muda saat ini, khususnya mahasiswa. Sebab, selangkah lagi mereka akan menjadi pemimpin.

Saya sebagai dosen (mungkin juga Anda) kelak akan ditanyai tentang tanggung jawab dan wewenang serta amanat yang pernah diemban.

Kepada anak-anak ku dan adik-adikku mahasiswa, kegelisahan anda hari ini tentang banyaknya kasus OTT bagi koruptor, kiranya menunggu masanya anda hadir sebagai agen perubahan ke arah yang lebih baik. Belajarlah banyak ilmu, tapi jangan lupa anda juga harus menjaga semangat kritisisme terhadap apa yang terjadi di lingkungan Anda. Jangan keseimbangan antara etika dan sikap kritis. Jangan karena kritis tapi tidak etis. Sebaliknya, jangan karena etis sikap kritis menjadi lumpuh. Sebab krisis etika dan lumpuhnya sikap kritis itu adalah malapetaka akademik.

Note: ini catatan kecil di akhir 2020. Selamat datang tahun 2021.

Samata, 31/12/2020

Editor : Muhammad Yusuf Putra
l STAI Al-Furqan Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *