Keteladanan Rasulullah Saw dalam Penegakan Hukum yang Berkeadilan

desain:-arni/puspitasari-media/kampus

Menaati Allah Swt. dan meneladani Rasulullah Saw. merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam Islam. Allah maha adil dan Rasulullah diutus untuk menjadi teladan dalam menegakkan keadilan.

Suara penegakan keadilan tak pernah berhenti terdengar. Hal itu karena keadilan adalah kebenaran dan kebutuhan universal. Teriakan pencarian keadilan di lembaga-lembaga penegakan keadilan tak jarang terdengar histeris. Teriakan histeris itu terjadi ketika lembaga pengadilan gagal memproduksi keadilan. Akibatnya, teriakan itu belanjut ke jalan-jalan melalui demonstrasi, media massa, ruang akademik, dll.

Umat Islam bergerak mencari teladan bagaimana prinsip penegakan keadilan itu? Bagaimana Rasulullah Saw. menegakkan keadilan? Pencarian ini penting dalam rangka menemukan berbagai lorong-korong atau pin jalan tol keadilan sosial dan keadilan hukum.

Dikisahkan, bahwa ada seorang wanita Bani Mahzum, salah satu kelompok yang sangat terpandang dari etnis Quraisy, kedapatan mencuri. Untuk menutupi aib dan rasa malu, para pemuka Bani Mahzum meminta tolong Usamah yang tergolong dekat dengan Nabi Muhammad Saw. agar melakukan pendekatan dan lobi kepada Baginda Rasulullah yang mulia itu

Akan tetapi, ternyata, Usamah gagal total. Usahanya sia-sia belaka. Nabi langsung menghardik dan memberi peringatan keras kepadanya. “Apakah kamu mau menyuap (korupsi dan menyogok) soal hukum (ketentuan) dari undang-undang Allah?”

Dalam kesempatan itu pula, Nabi Saw. langsung naik ke atas mimbar dan memberikan peringatan. “Inilah praktik kebiasaan buruk yang telah memporak-porandakan umat-umat terdahulu. Mereka binasa dan kacau (diazab oleh Allah) karena mereka tidak berani menghukum orang-orang terpandang (kelompok elit) dari kalangan mereka. Sebaliknya, mereka menghukum berat orang-orang kecil. Kalau Fatimah, putriku, mencuri, pastilah aku potong tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Aisyah).

Hal ini tidak boleh dipahami bahwa Fatimah putri Rasulullah Saw itu mencuri. Tidak sama sekali! Beliau terjaga dari kejahatan itu. Akan tetapi pesan moralnya adalah tidak boleh ada yang kebal hukum. Tidak boleh mata hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Hukum mesti tegal seadil-adilnya.

Kisah dalam riwayat di atas sungguh inspiring dan menjadi teladan yang amat berharga, khususnya bagi masyarakat yang mendambakan kejujuran, keadilan, dan penegakan hukum bagi setiap orang. Melalui kasus ini, Nabi Saw. mengajarkan beberapa masalah dasar yang mesti diperhatikan oleh para pemangku kekuasaan, baik di lingkaran eksektutif, legislatif, maupun yudikatif. Dan lebih khusus aparat penegak hukum. Pelajaran itu antara lain:

1). Soal keadilan.
Keadilan adalah proses sekaligus tujuan dan cita-cita. Adil (al-`adl) atau keadilan menunjuk pada sikap tengah, lurus, dan tidak memihak kepada siapa pun, kecuali pada kebenaran. Dalam konteks hukum, adil bermakna menghukum siapa pun yang salah, tanpa berpihak, dan tanpa pandang bulu. Penegakan hukum hanya berpihak pada kebenaran dan keadilan.

Keadilan menuntut dan menempatkan manusia sama di depan hukum. Di sini prinsip “equal before the law” tak boleh hanya dipidatokan, tapi dilaksanakan, seperti Rasulullah Saw. telah membuktikannya. Simak firman Allah! “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS al-Nahl [16]: 90).

2). Soal penegakan hukum (law enforcement).
Penegakan hukum terkait pula dengan keadilan di atas. Demi keadilan, hukum harus ditegakkan secara jujur dan adil. Penetapan hukum secara tidak adil, korup, dan penuh kecurangan, pertarungan suap, seperti kerap terjadi, semua itu jelas melukai dan mencederai rasa keadilan masyarakat.

Penegakan hukum tak boleh seperti pedang, hanya tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Inilah yang diperingatkan oleh Allah dan Rasul. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS al-Nisa’ [4]: 58).

3). Soal kekacauan dan kehancuran masyarakat.
Bila soal keadilan dan penegakan hukum diabaikan oleh para pemangku kekuasaan, kehancuran pasti terjadi. Tidak bisa tidak! Ini adalah ketentuan atau hukum Allah (sunatullah) yang berlaku secara universal. Inilah pesan penting yang hendak dikabarkan oleh Nabi Saw. kepada seluruh umat manusia dalam pidatonya di atas.

Mesti diketahui bahwa keadilan adalah hukum kosmik (alam jagat raya). Setiap kelaliman akan menimbulkan keguncangan sosial (social dis-equilibrium) yang pada gilirannya akan membawa pada kehancuran. “Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS al-Naml [27]: 69).

Semoga bangsa Indonesia menemukan keadilan. Semoga para penguasa bertindak sebagai imam (pemimpin) bagi tegaknya keadilan hukum dan keadilan sosial. Semoga rakyat tidak menggadaikan kepercayaannya menerima uang saat pemilu. Sebab, sesungguhnya pemimpin atau penguasa yang ada merupakan pilihan rakyat. Rakyat pun ikut bertanggung jawab atas pilihannya itu. Oleh karena itu, pendidikan politik bagi seluruh pemilih dan calon pemilih (rakyat) adalah mutlak

Rakyat harus berani menolak seluruh praktek sogok melalui calo dan tim pemenang seluruh partai politik. Suara keadilan mesti dimulai dari awal. Rakyat harus berdaulat dalam menentukan pemimpin yang adil. Semoga!

Kamis, 14/01/2021

Editor: Muhammad Yusuf Putra
l STAI Al-furqan Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *