Memahami Karakter Diri yang Lemah

Desain: Arni Puspitasari/Media Kampus

Kali ini, saya mencoba bergeser sedikit dari tema politik dan pandemi. Kali saya ingin melacak penjelasan Alquran tentang siapa “aku”. Tujuannya, agar “aku” tahu “meng-aku-inya”. Sebab, manusia adalah manusia, bukan yang lain.

Menurut Alquran, ada banyak sifat manusia yang digambarkan. Penggambaran sifat-sifat ini akan membantu saya dan Anda untuk lebih intensif mengintrospeksi diri sehingga menjadi manusia yang dicintai Allah. Sifat-sifat manusia tersebut:

1.manusia itu lemah. “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Q.S. Annisa; 28)

2. manusia itu gampang terperdaya. “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah” (Q.S Al-Infithar : 6)

3. Manusia itu lalai. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” (Q.S At-takaatsur 1)

4. Manusia itu penakut. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S Al-Baqarah 155).

5. Manusia itu bersedih hati. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin , siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah , hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Q.S Al Baqarah: 62)

6. Manusia itu tergesa-gesa. “Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (Al-Isra’ 11)

7. Manusia itu suka membantah. “Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (Q.S. an-Nahl 4)

8. Manusia itu suka berlebih-lebihan. “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S Yunus : 12)

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas” (Q.S al-Alaq : 6)

9. Manusia itu pelupa. “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Q.S Az-Zumar : 8 )

10. Manusia itu suka berkeluh-kesah. “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (Q.S Al Ma’arij : 20)

“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (Q.S Al-Fushshilat : 20)

“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa” (al-Isra’ 83)

11. Manusia itu kikir. “Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan adalah manusia itu sangat kikir.” (Q.S. Al-Isra’ : 100).

12. Manusia itu suka kufur nikmat. Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah). (Q.S. Az-Zukhruf : 15)

sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (Q.S. al-’Aadiyaat : 6)

13. Manusia itu zalim dan bodoh. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, ” (Q.S al-Ahzab : 72)

14. Manusia itu suka menuruti prasangkanya. “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S Yunus 36)

15. Manusia itu suka berangan-angan. “Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (Q.S al Hadid 72)

Cara Mengatasinya

Islam, sebagaimana diyakini penganutnya, sudah memberikan solusi untuk segala sifat buruk manusia tersebut. Sungguh nikmat Islam, iman, dan Ihsan bukanlah nikmat yang murah.

1.Tetap berpegang teguh kepada tali agama dan petunjuk-petunjuk dari Allah. Setiap saat mesti menambah pengetahuan dan pengamalannya. Selalu mencari jawaban atas segala problem yang dihadapi setiap saat yang terus-menerus berubah dan berkembang.

Allah SWT berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S al-Baqarah : 38). Memahami Islam – apalagi teks suci- tentu saja tidak boleh berdasarkan dugaan sendiri.

2.Tetap berada dalam ketaatan sesulit apapun situasi yang melanda, tetap berada dalam ketaatan disini, berarti bersegera menyambut amal-amal kebaikan. Mungkin seperti syair yang dilantunkan Abdullah bin Rawahah untuk mengembalikan semangatnya saat nyalinya mulai ciut di perang mut’ah ketika dua orang sahabatnya yang juga komandan pasukan pergi mendahuluinya. “wahai jiwa, jika syurga sudah di depan mata mengapa engkau ragu meraihnya”

Allah berfirman “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Q.S. Ali Imran : 133). Ini tentu harus diletakkan pada konteksnya. Bentuk matsal tasybih yang menggambarkan betapa luas nikmat dan ampunan Allah, sehingga semua orang berpeluang meraihnya sekarang atau yang akan datang. Namun, Alquran manusia lebih dini meraihnya.

3. Jagalah keimanan kita.
Mengapa mesti dijaga? Ya, karena ia amat berharga, namun sifatnya fluktuatif, yaitu iman seseorang naik turun, bahkan bisa jadi hilang sama sekali. Inil mungkin seperti yang dikhawatirkan sahabat Hanzalah, ketika ia curhat kepada abu Bakar bahwa ia termasuk orang yang celaka. Mengapa demikian? karena ia merasa Imannya turun ketika jauh dari Rasulullah. Ternyata itu pula yang dirasakan lelaki dengan iman tanpa retak itu. Hingga mereka berdua akhirnya menghadap Rasulullah. Mendengar permasalahn mereka, Rasulullah hanya tersenyum dan menjawab, “selangkah demi selangkah Hanzalah!”

Tetapi sungguh, iman seorang mukmin yang baik, akan tetap memiliki trend yang menanjak.

Disinilah mungkin loyalitas kita kepada Allah diuji. Apakah kita bisa, belajar mencintai Allah diatas segala sesuatu, belajar mencintai sesuatu karena Allah, serta belajar membenci kekufuran!!!

4. Berjama’ahlah

Manusia itu lemah ketika sendiri dan kuat ketika berjama’ah (berkolaborasi).

Ajaran salat berjamaah mestinya tidak ciut sedikit pun dengan menghadapi masalah pandemi Covid-19. Jika di masjid-masjid tidak memungkin berjamaah mestinya pindah ke kelurga dan rumah tangga. Derajat atau nilainya istimewa karena berjamaah. Makan pun dianjurkan berjamaah, karena di dalamnya ada berkah yang disiapkan khusus.

Berjamaah dalam.banyak hal dalam bidang muamalah pun sangat dianjurkan. Tentu korupsi berjamaah sangat dilarang. Jangan korupsi berjamaah, korupsi sendirian pun dilarang. Tentu saja, berjamaah yang dianjurkan adalah berjamaah dan berkolaborasi dalam kebaikan.

Misalnya, dalam Surat Al-Maidah ayat 2, Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

”Dan tolong-menolong lah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwa lah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat.”

Ayat ini mensyaratkan dasar tolong menolong, yaitu nilai kebaikan dan ketakwaan. Dan, mencegah konspirasi dalam kejahatan dan permusuhan.

Semoga kita menyadari akan kelemahan kita sebagai manusia. Dan, senantiasa menemukan solusinya dalam Islam, iman, dan Ihsan. Itu sebabnya, manusia harus saling mengingatkan, karena “aku” dan “Anda” sama-sama makhluk yang pelupa. Saling menguatkan kita senasib sebagai makhluk yang lemah. Sesama makhluk hidup lemah tidak perlu saling melemahkan. Kelemahan tidak perlu dicari-cari karena keberadaannya sangat jelas. Yang perlu dirumuskan kelemahan manusia yang mendesak untuk dikuatkan. Orang-orang mukmin itu laksana satu bangunan yang saling menguatkan antara satu bagian dengan bagian lainnya sehingga bisa berdiri kokoh dan seimbang.

Wallahu a’lam bish-shawab…

Samata, 4/1/2021

Editor : Muhammad Yusuf Putra
l STAI Al-Furqan Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *