Membaca Teks Suci: Menyingkap Rahasia Suci di Balik Usia 40 Tahun

desain:/media-kampus/arni-puspitasari

Artikel ini masih memiliki kaitan erat dengan dua artikel sebelumnya. Kali ini, khusus rahasia Suci di balik umur 40 tahun. Yaah…,  Membincangkan usia 40 tahun bukan kebetulan. Hal itu secara eksplisit diungkapkan oleh Al-Qur’an, tepatnya pada Surah al-Ahqaf: 15. Ungkapan 40 melalui penuturan Wahyu pastilah bukan kebetulan, melainkan ada rahasia Suci di balik itu.

Kita coba perhatikan, kita mungkin pernah mendengar pemeo psikologi 18-40-60. Kode angka ini memiliki makna bahwa ketika seseorang berusia 18 tahun, ia akan mencemaskan pendapat semua orang tentang dirinya. Inilah adalah fenomena umum. Beberapa riset dan kajian membuktikannya.

Selanjutnya, ketika berumur 40 tahun, manusia cenderung tidak peduli apa pendapat orang lain tentang dirinya. Dan, ketika berumur 60 tahun, ia akan tersadar bahwa tidak ada orang yang pernah memikirkan dirinya. Itu adalah mukaddimah bahwa tidak lama lagi prinsip “nafsi-nafsi” akan menjadi kenyataan, yaitu ketika mengawali kehidupan baru di alam barzakh.

Di era hyper-realitas seperti sekarang ini, ternyata, kebanyakan orang tidak memikirkan keadaan orang lain. Mensos yang disumpah memikirkan nasib orang lain (rakyat) di masa pandemi, justru ia memprioritaskan dirinya. Maka ia terjebak dalam tindak pidana korupsi (Tipikor). Orang sibuk melayani dirinya. Alih-alih memikirkan orang lain, mereka justru tidak memikirkan pendapat orang lain tentang dirinya.

Dalam dunia kapitalis seperti sekarang ini, kebanyakan orang berpikir “emang gue pikirin” atau “apa manfaatnya buatku”. Tidak sebaliknya, “apa yang bisa kuberikan manfaat buatmu?”. Fakta sosial serupa itu diingatkan oleh Nabi Saw. Bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak berkhidmat menebar manfaat bagi manusia lainnya.

Kembali ke usia 40 tahun…
Usia 40 tahun disebut istimewa karena disebut secara khusus dalam al-Quran dalam al-Ahqaf 15. Para ahli tafsir menerangkan,p usia 40 tahun disebut pada ayat ini, karena manusia mencapai puncak kehidupannya. Baik secara fisik, intelektual, emosional, karya, maupun spiritualnya.

Selamat tinggal masa muda!

Anda sudah berusia 40 tahun atau lebih? Jika “ya” maka anda pasti tidak muda lagi.Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan masa mudanya. Apa yang dialami pada usia 40 seringkali sifatnya stabil, mapan, dan kokoh. Karenanya, perilaku, karya, dan kontribusi hidup di usia ini akan menjadi tolok ukur manusia pada perjalanan hidup berikutnya.

Ada banyak keistimewaan yang ditunjukkan dalam sejarah Islam tentang usia 40 tahun ini. Dalam al-Qashash 14 disebutkan, “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan.”

Al-Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat ini, “Sudah tiba waktunya bagi Musa untuk memiliki kekuatan dan keperkasaan yang paling prima. Itulah puncak keadaan dirinya yang dia tidak mungkin lagi untuk mengulanginya ataupun memilikinya lagi setelah itu berlalu. Itulah penghabisan masa muda, masa sempurnanya badan dan kejernihan pemahaman.”

Kecerdasan Musa
Ibnu Abbas mengatakan, “Ketika Musa mencapai umur bidh’an wa tsalastina sanatan (33-39), dia diberi kepahaman, kecerdasan, dan ilmu agama sebelum diangkat sebagai nabi dan rasul.”

Imam Mujahid menafsirkan bahwa istawa pada ayat itu berarti pada umur 40 tahun. Imam Asy-Sya’bi dalam Tafsir Al-Qurthubi menambahkan, “Itulah umur ketika mencapai kedewasaan.”

Maka, amatlah wajar jika usia 40 tahun disebut tersendiri di dalam al-Qur’an. Dan karenanya, logis jika para Nabi diutus pada usia 40 tahun, remasuk Nabi Muhammad SAW.

Para pakar, misalnya Ibnu al-Qayim al-Jauziyah, usia manusia diklasifikasikan menjadi empat periode. Yaitu periode kanak-kanak (thufuliyah) yang dimulai sejak lahir hingga baligh; Periode muda (syabab) dari usia baligh hingga 40 tahun; Periode dewasa (kuhulah) yakni usia 40-60 tahun; dan periode tua (syaikhukhah) dari 60-70 tahun.

Cermatilah Al-Qur’an surah al-Ahkaf 15, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Ayat tersebut mengajarkan kepada kita apa saja yang semestinya dilakukan bagi manusia yang menginjakkan kaki di usia 40 tahun.

1) sering-seringlah membaca doa ini. Sebagaimana riwayat Imam Atha’ dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ketika Abu Bakar berusia 40 tahun dia sering berdoa dengan doa yang terdapat pada Al-Ahqaf 15 ini.”

Di antara para sahabat sampai ada yang mengatakan, “Maka Allah mengabulkan semua yang diminta Abu Bakar, sehingga kedua orangtuanya dan anak keturunannya masuk Islam. Tidak ada seorangpun dari sahabat yang diberi keistimewaan seperti itu.”

Imam Ar-Razi menuturkan, “Umar bin Abdul Aziz ketika memasuki usia 40 tahun selalu berdoa dengan ayat ini.”

2) mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Dalam ayat tersebut, Allah mengajarkan hamba-Nya untuk lebih banyak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada kita.

Karena usia 40 tahun sudah tidaklah muda lagi maka, permohonan pertama yang diajarkan kepada kita adalah agar Allah memberikan ilham (inspirasi) untuk bisa terus bersyukur kepada Allah.

3) mengingatkan kedua orangtua dan anak sebagai orang yang—mau tidak mau— dewasa dan menuju usia tua. Ini bisa membuat kita senantiasa berbuat baik. Juga mendoakan kedua orangtua yang telah bersusah payah: mengandung, melahirkan, serta menyusui dan menyapihnya selama tiga puluh bulan.

4) hendaklah kita mulai memperbanyak amal kebaikan yang diridhai oleh Allah. Usia 40 tahun adalah masa awal seseorang memperbaiki diri. Sebab ada yang mengatakan, jika di usia 40 tahun ini seseorang sudah tidak bisa lagi memperbaiki diri maka pada gilirannya di usia berikutnya ia akan gagal menjadi orang yang baik-baik. Maka, usia 40 tahun adalah tonggak awal perbaikan diri seseorang.

5) seseorang yang mencapai usia 40 tahun diingatkan oleh Allah agar ia kembali dan banyak meluangkan waktu untuk keluarga.

Dalam ilmu psikologi, usia 40 ini adalah masa puberitas kedua. Pada usia ini pula seseorang biasanya mencapai puncak kesuksesannya. Dalam capaian duniawi inilah, biasanya seseorang digoda untuk “melirik” lawan jenisnya.

Bisa nikah lagi bagi seorang laki-laki atau muncul letupan bermain api cinta. Karenanya, Allah mengingatkan agar berhati-hati, lebih baik dan lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarga dan anak-anaknya.

6) ketika Allah mengajarkan doa dan pengakuan “Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau”, maka sesungguhnya Dia sedang mengingatkan kepada hamba-Nya agar ia banyak bertaubat di usia 40 tahun.

Sebagaimana telah diungkapkan di atas, karena usia mulai memasuki gerbang ketuaan maka hendaklah ia lebih banyak merenung dan mendekatkan diri kepada Allah. Dimulai bertaubat dan menghentikan segala keburukan hidupnya menuju memperbanyak amal kebaikan.

7) sebagaimana doa yang hampir sama diajarkan Nabi Sulaiman kepada kita (baca an-Naml 19), bahwa seseorang yang sudah berumur 40 tahun hendaklah lebih banyak bergaul dan bergumul dengan orang-orang saleh. “Wa adkhilniy birahmatika min ‘ibadika ash-shalihin. dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Jangan lagi merasa masih muda, lalu bergaulnya dengan anak-anak muda. Mulai mencari teman yang mengajak dan berkecenderungan untuk berbuat kebaikan. Perlu ada kesadaran untuk mengubah perilaku diri.

8) seseorang yang telah berusia 40 tahun harus lebih banyak berserah diri kepada Allah. Berusaha dan bekerja harus dengan sungguh-sungguh. Tetapi, dalam banyak kesempatan, kepasrahan dan kedekatan diri kepada Allah harus lebih direkatkan.

Berpasrah diri kepada Allah itu sebagai tanda dan sekaligus upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Artinya, keyakinan dan keimanannya akan semakin kuat dengan keberadaan dan kemahakuasaan Allah.

Tentu saja, hal ini berebda dengan mereka yang masih muda, di mana rasa percaya dirinya seakan melebihi ketentuan Allah. Ia masih sangat percaya dengan kemampuannya menyelesaikan segala persoalan yang ia hadapi.

Yaah, saat mulai usia 40 tahun seseorang mulai disadarkan dengan ketentuan dan kemahakuasaan Allah seiring berkurangnya kemampuan diri seseorang, baik secara fisik maupun psikis.

Saudaraku! Hidup baru dimulai setelah usia mencapai 40 tahun (Life begins at forty?) Belum terlambat…. Dan hidup yang sesungguhnya adalah yang diprioritaskan untuk mencari dan mencapai ridha Allah. Carilah mahabbah, makrifat, dan hikmah! Karena hanya  sekali hidup, maka hiduplah yang berkualitas!

Wallahu a’lam bish-shawab

Samata, 7/1/2021

Editor: Muhammad Yusuf Putra
l STAI Al-furqan Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *