Optimisme menghadapi Pandemi Covid-19 di tahun 2021

Meskipun optimisme harus dibangun di satu sisi, namun di sisi lain, informasi juga harus membuka fakta yang sesungguhnya. Faktanya pandemi Covid-19 masih belum selesai dan belum ada yang tahu kapan persisnya wabah akan berakhir. Yang tahu pasti hanyalah Allah. Pada saat pandemi meledak Maret 2020, para pakar dunia memprediksi pandemi akan berlangsung selama tiga tahun.

Akan tetapi, seiring kemunculan banyak vaksin termasuk di Indonesia, harapan pandemi dapat berakhir lebih cepat. Meski begitu cakupan vaksin setiap negara berbeda tergantung kemampuan ekonomi. Di tengah resesi seperti sekarang, kembali muncul kekhawatiran pandemi di negara-negara berkembang dan miskin dapat berlangsung lebih lama, bahkan kembali ke skenario awal.

Dari perspektif teologis, harus diyakini bahwa apapun dan bagaimanapun masalah itu selalu saja ada solausinya. Tetap diyakini, pandemi di Indonesia, termasuk Jabar dapat dikendalikan. Apalagi uji coba vaksin Sinovac Bio Farma tahap 3 sedang dilakukan di beberapa Kota di Indonesia dengan hasil menggembirakan. Oleh karena itu, dia minta masyarakat tetap optimis dan positif menghadapi tahun 2021.

Yang harus dilakukan oleh pemerintah dan semoga mendapat dukungan penuh masyarakat adalah menyusun resolusi bagaimana menghadapi pandemi di 2021, yakni lebih disiplin menjalankan protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun, serta lebih kreatif mencari peluang – peluang bisnis baru untuk bangkit secara ekonomi.

Dampak covid 19 tidak hanya masalah ekonomi, tapi juga masalah kesehatan. Keduanya mempunyai kaitan erat. Dan, tentu hal ini tidak lepas dari masalah politik dan keamanan. Jika politik stabil dan keamanan terkendali, serta tegaknya keadilan hukum dan keadilan sosial maka semangat dan optimisme menghadapi masalah akan terbangun kokoh, sehingga bisa berpikir jernih dan bertindak tepat.

Fungsi Agama: Menuntun pada syukur dan sabar

Agama hadir sebagai tuntunan (dalam senang dan susah). Agama mengajarkan bahwa nikmat itu menuntut syukur, sedangkan musibah menuntut sabat. Syukur dan sabar adalah nilai kualitas iman dan takwa seseorang.

Ketika mendapat nikmat maka sikap kita seperti sikap nabi Sulaiman as. Sebagaimana dikisahkan dalam QS. Al-Naml ayat 40:…’Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. Kita bersyukur atau malah bertambah kufur. Itu poin utama yang hendak ditakar melalui nikmat itu.

Sebaliknya, apabila musibah datang maka sikap sabar adalah poin utama yang hendak diukur oleh Allah. Simaklah penuturan Wahyu: “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).” (Q.S [2] al-Baqarah:156-157).

Kesabaran yang aktif dan produktif serta sikap penuh optimisme adalah poin utama yang hendak diukur. Dengan demikian, syukur dan sabar adalah nilai kualitas iman dan takwa hamba yang menjadi aspek penilaian dan sekaligus pembeda di antara hamba-hamba Allah.

Perang melawan covid 19?

Perang dunia pertama dihadapi dengan sangat sederhana dengan bambu runcing, tombak, dan benteng pertahanan. Perang dunia kedua menggunakan bom, maka tombak, bambu runcing, dan benteng tidak laku. Kalau ini benar adalah perang dunia ketiga, maka bom dan senjata secanggih apapun tidak laku, sebab musuhnya tidak kelihatan, yaitu virus Corona (covid 19) yang terus mengalami evolusi.

Strategi menghadapinya, yaitu mencuci tangan, jaga jarak, pakai masker, jaga imun. Selain menjaga imun, juga mejaga iman. Senjata orang beriman adalah doa. Dalam riwayat disebutkan “Doa adalah senjata seorang Mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi. (HR Abu Ya’la). (Bismillahil ladzi la yadhurru ma’as mihi yai’un fil ardhi wala fis sama’i wahuwas sami’ul ‘alim).

Jika doa adalah senjata orang mukmin maka mestinya orang beriman itu menghadapi musuhnya dengan senjata (doa). Pelajari cari menggunakannya agar musuh dapat musnah. Covid 19 adalah musuh yang diyakini adanya, namun keberadaannya tidak kelihatan. Maka, kita juga mesti menggunakan senjata (doa) secara tepat. Tentu saja, doa juga disertai upaya nyata berupa ketaatan pada protokol kesehatan. Orang beriman takkan pernah putus asa dari rahmat Allah. Harus diyakini bahwa pertolongan Allah pasti datang dan kemenangan akan menjadi milik orang beriman.

Wallahu a’lam bishsh- shawab…

Samata, 2/1/2021

Editor : Muhammad Yusuf Putra
l STAI Al-Furqan Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *