Jalan Pulang Seorang Penuntut Ilmu: Tribute to Titi Sumarni

“…Di tahap akhir, aku akan mati dari (keadaan sebagai) manusia; untuk bisa berubah menjadi salah satu sayap malaikat; Setelah jadi malaikat, aku akan terus mencari ufuk lain; Karena “ Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya.” (Jalaluddin Rumi)

Setiap kehadiran akan menemukan ketiadaan, setiap perjumpaan akan menemukan kepergian, setiap arah pulang akan berhenti di persinggahan.

Arah pulang yang ditempuh penuntut ilmu, tentu berpeluh, keringat-keringat perjuangan terasa pahit berkeruh. Namun karena itulah menjadi alasan sayap malaikat memayungi penuntut ilmu dalam setiap detik khidmat, serta menjadi penunjuk arah baginya membuka pintu surga sesuai keinginannya.

Penuntut ilmu telah khatam pertanyaan primitif pemikiran modern sekarang. “Mengapa aku dilahirkan ke dunia? Dan mengapa aku harus meninggalkannya? Apa yang menjadi tujuan dibangun dan dimusnahkannya semua ini? Bukankah perbuatan itu merupakan kesia-siaan yang sama sekali tidak berfaedah?”

Sebab ia telah tenggelam dan hanyut dalam arah pulang yang ia tempuh sebagai “kulluhu al-quwwaa” telah mencapai tingkatan tertinggi di sajadah “al-nafs al-nathiqiyah”

Arah pulang telah membawa penuntut ilmu untuk terus berpacu pada kemurnian seorang pejalan, yang menuju ke tepi danau Firdaus bermandikan kesegaran.

Sampai ketika seorang penuntut ilmu telah benar-benar berangkat, ia dipeluk malaikat dari arah manapun yang ia senangi, diantar dengan genderang kebahagiaan oleh penjaga-penjaga langit, untuk dihadapkan sampai langit ketujuh.

Maka Rabbul Izzati menuliskan nama seorang penuntut ilmu di ‘Illiyyin.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ، كِتَابٌ مَرْقُومٌ، يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ   

“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah),” (QS al-Muthaffifîn [83]: 19-21). 

Lalu dikembalikanlah penuntut ilmu ke jasadnya, agar panca inderanya berfungsi untuk merasakan dan melihat jalan panjang telah dilaluinya di atas makamnya.

Menangislah, rintik sendu air mata.

Benar saja, Saudara kita Titi Sumarni telah menempuh lebih dulu jalan pulangnya menuju keabadiannya. Banyak keindahan yang ikut mengiringinya namun jauh lebih banyak keindahan yang berbekas kenangannya.

Ia adalah salah satu dari diri kita, namun kita adalah ia seluruhnya, selamat jalan saudara, jalan pulangmu begitu indah, tunggu kami di persinggahan dengan sambutan penuh senyuman.

Al-Fatihah..

“When you leave me
in the grave
don’t say goodbye.

Remember a grave is
only a curtain
for the paradise behind” – (Jalaluddin Rumi)


Editor: Digital Media Al-Haqq STAI Al-Furqan Makassar
Penulis: Fulani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *