KHUTBAH IDUL FITRI 1442 H/2021 M : IDUL FITRI SEBAGAI SIMBOL SPRITUAL KEMBALI KE JATI DIRI

DR. MUHAMMAD TANG, S.H.I., M.S.I.

MASJID AL-IKHLAS BTN MINASA UPA BLOK G, MAKASSAR 1442 H./2021 M


السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهْ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَرَحْمَتُهُ الْمُهْدَاةُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أما بعد، فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، قَالَ تَعَالَى: إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ، اُدْخُلُوْهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ (الحجر: ٤٥-٤٦)

Kaum muslimin dan Muslimat Jamaah Shalat yang Sama Berbahagia
Pada hari ini, bahkan sejak semalam gema takbir menggema dan mengguncang sanubari kita tentang kebesaran Allah Swt. Tuhan yang telah menciptakan manusia dan alam raya ini dengan penuh keteraturan dan keindahan.

Ciptaan Tuhan yang paling indah dan yang paling unik di mana keunikannya tak akan terungkap secara keseluruhan sampai kiamat nanti adalah diri kita sendiri “manusia”. Simbol kemulian dan keindahan manusia terpatri dalam diri Rasulullah Muhammad Saw. indah wajahnya, muliah peringai dan akhlaknya, reformasi sejati yang menggulung dunia kegelapan menjadi dunia terang benderan dengan cahaya keislaman, serta diberikan hak “syafaat” dari Allah untuk umatnya di akhirat kelak. Maka sebagai umatnya kita harus bangga dan mahabbah (cinta) kepada beliau dengan senantiasa bershalawat kepadanya dan menghidupkan sunnah-sunnahnya.

Menggemahnya takbir pada hari ini adalah juga sebagai salah satu tanda bahwa Ramadhan 1442 H. telah meninggalkan kita. Semoga dengan datang dan perginya Ramadhan setiap tahun meninggalkan bekas dalam diri kita. Bekas yang dapat menjaga dan meningkatkan martabat kita sebagai manusia, yang lebih tinggi derajatnya dibanding dengan ciptaan Tuhan lainnya. Manusia yang dapat menhormati dan menghargai orang tuanya yang telah bersusah payah mengandungnya selama 9 bulan dan menyapinya selama 2 tahun, manusia yang dapat menjaga lisannya dengan tidak mencaci maki dan menyakiti saudaranya sesama manusia; manusia yang dapat menghargai dan menghormati di luar dari diri dan golongannya; manusia yang ringan tangan membantu saudaranya sesama manusia tanpa pilih kasih; rebba’ sipatokkong mali siparappe’, siame’-siame padatta rupa tau naletei pammasena dewatae’ (saling menopang dan mengayomi, saling sayang dan mengasihi menjadi sebab turunnya rahmat Allah Swt.).


الله اكبر-الله اكبر-الله ا كبرولله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah Shalat Ii’d Yang Sama Berbahagia

Allah Swt., Tuhan yang Maha Kasih, yang menyayangi dan mengasihi manusia di bumi ini tanpa pilih kasih, apakah ia beriman kepada-Nya ataupun yang ingkar kepada-Nya. semuanya diberikan rezeki sesuai dengan tingkat kemampuan dan ikhtiarnya, dan bagi orang-orang yang beriman tentu setiap usahanya dilandasi dengan hati yang ikhlas dan tawakkal kepada-Nya Sang Maha Pemberi Rezeki (al-Razzak).

Matahari bersinar tanpa pilih kasih; udara bertiup dan dihirup oleh setiap insan dan makhluk hidup di muka bumi ini; air mengalir dan menghapus dahaga setiap insan dan makhluk hidup; tanah dipijak dan tempat bercocok tanam; lautan menjadi jembatan perdagangan antar benua dan hidup berbagai macam hayati; lalu…”nikmat apalagi yang kita dustakan” فبأ ي الاء ربكما تكذبا ن
Begitu pemurah dan penyayang-Nya Allah Swt. kepada manusia, “segala yang tercipta di muka bumi ini semuanya untuk manusia”, Allah Swt., Tuhan pencipta segala sesuatu mempertegas dalam kitab manual yang diberikan kepada manusia; Qs. Al-Baqarah (2): 29:
هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ
Terjemahnya: “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha
Mengetahui segala sesuatu”, (Qs. Al-Baqarah (2): 29:

الله اكبر-الله اكبر-الله ا كبرولله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah Shalat Ii’d Yang Sama Berbahagia

Eksistensi puasa sebagai sarana yang disyariatkan oleh Tuhan pencipta untuk dijalani manusia agar manusia dapat kembali ke jati dirinya; puasa mendidik manusia untuk menjaga dan meningkatkan martabatnya; puasa dapat menjaga eksistensi manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna dan yang paling indah dibandingkan makhluk lainnya. Tapi manusia juga dapat jatuh ketempat yang serendah-rendahnya makhluk. Hal ini Tuhan telah menegaskan dalam firmannya; Qs. At-Tin (95):

لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ – ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ
Terjemahnya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),”. (QS. At-Tin (95): 4

Kedua ayat tersebut mempertegas bahwa manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya dan dapat jatuh ketempat serendah-rendahnya. Lalu kapan manusia menempati posisi “ahsani taqwiim” (posisi yang sebaik-baiknya) dan kapan manusia menempati posisi “asfala saafiliin” (posisi serendah-rendahnya). Dalam perkembangan manusia di muka bumi ini jika diberikan pertanyaan apakah ingin kebahagian dunia-akhirat? Pasti manusia normal akan menjawab “YES”. Tidak ada satupun manusia yang inigin memilih jalan hidup kesensaraan yang bisa membawa ke posisi “asfala saafiliin”. Tapi dalam realitas kehidupan manusia banyak yang mengakibatkan terpeleset kejurang kehinaan yang merusak martabat kemanusiannya; apakah sadar atau tidak sadar banyak manusia yang jatuh ke posisi “asfala saafiliin”. Melihat realitas ini, maka disinilah kehadiran Tuhan yang menurunkan syariat ”agama” sebagai nasehat kepada umat manusia” ad-Dhinul Nasehat”.

Salah satu syariat yang diturunkan Tuhan kepada umat manusia untuk menekan nafsu manusia agar tidak jatuh ke jurang “asfala saafilin” adalah PUASA. Makna puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat menjatuhkan manusia ke jurang “asfala saafiliin”. Insyaa Allah jika manusia dalam keadaan berpuasa ia akan berusaha maksimal menghindari hal-hal yang dapat merusak puasanya; dalam hal ini tentu ia akan menghindari perbuatan maksiat atau yang mungkar.
الله اكبر-الله اكبر-الله ا كبرولله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah Shalat Ii’d Yang Sama Berbahagia

Salah seorang cendikiawan muslim, Nurcholish Majid (2006), menjelaskan bahwa dengan berpuasa secara baik dan benar pada saat bulan Ramadhan, maka pada hari Idul Fitri dengan sendirinya orang beriman akan menyandang predikat fitri, artinya akan kembali kepada kesucian nurani, atau yang alamiah-sebab menurut alimiahnya (by nature) manusia itu mencintai kebajikan dan kebenaran. Puasa dengan benar bukan berarti hanya menahan makan dan minum serta semua yang dapat membatalkan puasa seperti yang terdapat dalam pemahaman Fiqhi formal namun juga mampu mengendalikan dari godaan dan dorongan hawa nafsu-maka hati nurani akan menjadi baik kembali.
Dengan menjalankan puasa secara baik dan benar, maka manusia akan menjadi bahagia kembali atau masuk alam paradiso (surga Firdaus) secara spritual, karena kembali kesucian inilah hakikat moral atau akhlak mulia sebagai refleksi ketaqwaan. Hal ini sejalan apa yang disampaikan salah seorang tokoh pembaharu Islam Rasyid Ridhah bahwa media atau wasilah yang paling baik untuk menanamkan karakter atau akhlak adalah puasa. Dengan puasa melatih diri tidak berkata kecuali yang benar, menahan diri untuk tidak marah, melatih diri untuk bersikap jujur, dan melatih diri untuk disiplin. Jika kita telah memiliki indikator ini, maka kita bisa menjadi golongan yang dijelaskan Rasulullah Saw., lewat salah satu sabdanya berikut ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم:(َ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ) أخرجه البخاري ومسلم
Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu berkata. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda : barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan penuh perhitungan (berhaarap pahala) maka diampuni dosanya yang telah lalu (Bukhari Muslim).

الله اكبر-الله اكبر-الله ا كبرولله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah Shalat Ii’d Yang Sama Berbahagia
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini tidak ada satupun manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa, maka pada hari ini adalah suatu momentum untuk kita saling memaafkan dan memohon ampunan kepada Tuhan Yang Maha Pengampun dan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Seorang anak sangat besar potensinya untuk melakukan kesalahan dan dosa terhadap orang tuanya. Maka pada hari ini tiada yang pertama kita telephon adalah orant tua kita, atau jika kita hidup bersama cium tangannya dan peluklah mereka dan meresapi dalam hati bahwa orang tua saya yang sudah susah payah mengandung, melahirkan, menyusukan, mendidik, dan membesarkan seperti aku sekarang ini. Cium dan peluklah ia sebagaimana mereka telah mencium dan memeluk kita pada saat kecil dengan penuh kasih sayang; mereka telah berjuang dengan sepenuh jiwanya untuk anak-anaknya, terkadang tidak memedulikan diri dan jiwanya, tapi apa balasan kita sebagai anak; terkadang kita membalasnya dengan kata-kata kasar dan hardikan; kita yang jauh dari mereka…terkadang kita lalai memikirkan…apakah orang tua saya di sana makan atau tidak….apakah ia punya uang belanja atau tidak…yaa Allah…yaa Rabb…ampunilah hambamu ini yang telah lalai memikirkan dan tidak maksimal berbuat baik kepada orang tua kami.

Selanjutnya, Sebagai suami-istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga tentu mengalami pasang surut, terkadang perahu berlayar dengan damai dan tenang, namun tidak jarang juga diterpa ombak yang dapat menggulingkan perahu, maka pada hari ini adalah momentum yang damai dan menyejukkan hati dalam menstabilkan perahu yang sedang berlayar. Pada hari ini jadikanlah momentum untuk berlapang dada, saling menerima kekurangan kita masing-masing, karena tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini; dan tidak ada manusia yang tidak pernah salah dan khilaf. Dalam konsep al-Qur’an bahwa pasangan suami-istri adalah bagaikan pakaian yang saling menutupi dan melengkapi kekurangan masing-masing;ۡۚ هُنَّ لِبَاسٞ لَّكُمۡ وَأَنتُمۡ لِبَاسٞ لَّهُنَّۗ (mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka, …Qs. al-Baqarah (2): 187).

Kemudian yang luntur atau yang bergeser sekarang ini adalah penghormatan seorang murid terhadap gurunya, ada fenomena sekarang ini di mana hubungan antara murid dan guru hanya terbatas di lingkungan sekolah saja, di luar lingkungan sekolah seakan tidak ada hubungan bahkan terkadang kita lihat sang murid pura-pura tidak kenal gurunya; bahkan yang ironis sekarang ini sudah banyak kasus kita lihat dan dengar banyak murid yang memenjarakan gurunya, mengajak berkelahi dan bahkan sampai membunuh gurunya; naudzu billahi mindzalik; padahal posisi seorang guru adalah orang kedua setelah orang tua kita. Sehingga dalam pendekatan agama itu jugalah salah satu penyebab kurangnya berkah ilmu terhadap kehidupan sang murid/peserta didik.

Maka pada hari ini adalah momentum yang sangat indah untuk bersilaturrahmi kepada sang guru; baik lewat telephon, dan lebih mulia lagi jika dapat bersilaturrahmi langsung.
Manusia sebagai makhluk sosial, tentu kita hidup bertetangga dan bermasyarakat, karena kesibukan masing-masing sehingga terkadang tidak ada kesempatan untuk saling menyapa, atau terkadang kita tidak sadar bahwa kita telah berbuat salah dan khilaf kepada tetangga kita sebagai saudara yang paling dekat, kita tidak memperhatikan hak-haknya sebagai tetangga, kita terkadang bersifat egois dan idividual, kurang berbagi suka dan duka dengan tetangga. Maka pada hari ini sebagai momentum buat kita untuk saling silahturrahmi dan maaf-maafan untuk membangun harmonisasi antar tetangga.
Terciptanya keluarga yang harmonis, masyarakat yang damai dan sejahtera sebagai landasan sosial dalam membangun bangsa dan negara menuju baldatun thayyibah warabbun ghafuur.

الله اكبر-الله اكبر-الله ا كبرولله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah Shalat Ii’d Yang Sama Berbahagia

Demikian khutbah yang singkat ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أما بعد فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى تَمَامِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَتْبِعُوا رَمَضَانَ بِصِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَكُونَ لَكُمْ كَصِيَامِ الدَّهْرِ وَصَلِّ اللهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا أَمَرْتَنَا، فَقُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ،
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Edited by : Digital Media Al-Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *