Apa Sih yang Kita Kejar Sampai Hari Ini: Sebuah Tajalli di Era Digitalisasi

“Robots will take over human jobs” – Bill Gates

Quote pembuka dari Bill Gates di dalam bukunya yang terbit pada 1999 silam “Business the Speed of Thought” yang jauh-jauh hari telah meramalkan bahwa robot akan mengambil alih kehidupan telah benar-benar terjadi realitasnya bahkan melibihi batas partikular kefungsiannya. (Walau masih dalam jelmaan smartphone).

Kita. Manusia yang hidup, makan, bertumbuh, bercumbu, — serta mati nantinya, mendikte perkembangan “buram” ini; kecepatan-ketepatan-pendapatan.

Alih-alih mencari penyangkalan, aktifitas kita telah mematahkan sangkal demi sangkal jawabannya. Manusia. terikat data, jaringan, serta pelbagai tools-tools penunjang pekerjaan. Pada prosesnya, mind output ataupun realitivitas outputnya sama-sama memunculkan makna tak berkesadaran. Adalah kecepatan.

Entah apa yang “memaksa” kita begitu cepat.

Apasih yang kita cari dari per-adu-an percepatan ini?.

Novel satire karya Voltaire “Candide” (2016) yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Widya Mahardika Putra, dengan judul asli “Candide, ou I’Optimisme” yang terbit pada 1759 dalam Bahasa Prancis, menyinggung tujuan penciptaan kehidupan manusia, dalam dialognya:

“Jadi buat apa dunia ini diciptakan?”

Pertanyaan itu diajukan Candide kepada Martin dalam pelayaran menuju Prancis.

“Untuk membuat kita gila,” jawab Martin.

Defenisi “Gila” dari jawaban Martin tentulah diluar pengertian yang telah umum kita mafhumi hari ini, runutan akar epistimologinya kembali bahwa “Gila” dalam genggaman gawai-gawai pintar walau sekalipun telah sangat jauh ia menarik manusia. Demi apa?, demi sebuah kecepatan — kebimbangan.

Benar adanya kalau kita asumsikan, bahwa produk kecepatan teknologi informasi yang setiap saat kita santap–lahap–lezat hari ini ialah anak kandung post modern yang telah lama menjadi pilar penggerak sebuah modernitas. Situasi dewasa ini telah melingkari manusia masuk kedalam prinsip Dromologi.

Prinsip Dromologi ini dicetuskan oleh Paul Virilio, dimana jika diserap lebih dalam lagi prinsip Dromologi memiliki arus Piknolepsi yang bagi Virilio merupakan kondisi ekstase atau kemabukan yang terjadi karena manusia larut dalam kecepatan dan perubahan. Hal tersebut kemudian membuat penumpukan dan tingginya frekuensi kemunculan citra kombinasi ketakterdugaan dan kejutan-kejutan terhadap sebuah informasi.

Itulah yang terjadi di sisi-sisi dan sudut-sudut ruang kehidupan kita.

Apakah salah sebuah kecepatan dari tingginya perubahan?, tentu tidak. Hanya saja kemana kompas kecepatan itu membawa manusia. Namun tragisnya, jalan kecepatan begitu luas dan begitu panjang, sehingga manusia begitu murah dan mudah untuk ikut menapakkan eksistensi semu di dalamnya.

Konsepsi, Aktualisasi, dan Esensi Kemanusian redup kian hari dan kian waktu terlalaikan gelap gempitanya kecepatan yang saling terhubung dan tak terbatas.

Sedikit kita geser kesadaran, “Inna li Lillahi” dan “Inna Ilaihi Rojiun” sangatlah gamblang dan padat untuk mengembalikan kegersengan problematika kehidupan atas cepat kilatnya gawai-gawai mematikan nalar-nurani sebagai unsur urgent “Abdullah” dan “Khalifah” di rotasi bumi yang kita tempati ini.

Rumi telah membentangkan syair indahnya:

“Ada lilin di dalam hati anda, siap untuk dinyalakan, ada kekosongan dalam jiwa anda siap untuk diisi”

Transendial tentang hati inilah yang luput dan sulit tercemari oleh kecepatan perubahan, bila ia menyala dan terus berkerlap-kerlip, dalam genggam–dekap cinta-Nya.

Ada pilar kerinduan hati ini kepada asal-Nya yang jarang terpantik karena terpukau kemolekan zaman.

Ada harap kedekatan yang begitu intim tapi sangat tidak sering untuk manusia perhatikan sebab zaman begitu erat memeluknya sampai sulit terlepaskan.

Ada rayu yang begitu indah terlafdzkan untuk nama-Nya namun sulit terucap karena kesibukan pentas persandiwaraan dunia ini.

Sampai Syaikh Ghailan as-Samarqandi yang diceritakan dalam kitab “Nafahat al-Unsi min Hadarat al-Qudsi” karya Mulla ‘Abdurahman al-Jami. Menuturkan:

“Seseorang yang makrifat memandang dari perspektif Allah terhadap hadirat-Nya sendiri, Seseorang yang alim berangkat dari pembuktian menuju kepada Allah, dan seseorang yang jatuh cinta sama sekali tidak membutuhkan dalil, baik bagi cintanya sendiri maupun bagi kekasinya.”

Tajalli atas kehambaan ini yang juga jarang untuk terus diriyadhahkan kepada kemurnian Cinta-Nya-lah sehingga, kecepatan zaman menjelma perlombaan tanpa nilai dan nihil penghormatan-kesyukuran dari Sang Kekasih yang begitu cinta telah meng-Adakan hamba-Nya.

Ada baiknya, manusia tetap di Jalan Pulang agar kecepatan dari kompleksnya perubahan tetap punya halte-halte pemberhentian, sebab yang Pulang tak selamanya pergi bisa saja meniti jalan yang lain untuk kembali.


Penulis: Sahyul Pahmi (Pembina Takhassus IT Al-Furqan dan Alumnus STAI Al-Furqan 018)

Editor: Digital Media Al-Haqq STAI Al-Furqan Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *